Salurkan sumbangan Anda ke Dompet Gus Dur untuk bencana atas nama Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid di Bank Mandiri No. Rekening 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara - Jakarta / Kode Swift: BMRIIDJA <---> Transfer your donation for Wasior, Mentawai and Merapi victims through Dompet Gus Dur to Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid (Account Number: 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara Jakarta 12190 - Indonesia / SWIFT Code: BMRIIDJA)

Indonesia English


Demokrasi harus berlandaskan kedaulatan hukum dan persamaan setiap warga negara tenpa mebedakan latar belakang ras, suku agama dan asal muasal, di muka-undang-undang.

News

    Biografi Gus Dur Diluncurkan

    Jakarta, gusdur.net
    Buku biografi mantan Presiden Indonesia KH Abdurrahman Wahid berjudul Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid karangan Greg Barton, Kamis (28/2) malam, diluncurkan di Golden Ball Hotel Hilton, Jakarta. 

    Peluncuran buku mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu yang dilakukan bersama peluncuruan buku Wimar Witolear berjudul No Regrets, dihadiri tokoh politik seperti Alwi Shihab, mantan menteri Soebroto, mantan Pangkostrad Kemal Idris, sastrawan Pramoedya Ananta Toer, serta tokoh LSM atau pun olahragawan seperti Ade Rai. Abdurrahman Wahid, yang akrab dipanggil Gus Dur, didampingi istri Sinta Nuriyah, serta putrinya Yenny dan Inayah. 

    Dalam kata sambutannya, Gus Dur hanya menceritakan tentang kebiasan salah kutip oleh media massa atas berbagai pernyataan yang pernah dikeluarkannya. Ia mencontohkan, ketika berkunjung ke Sumatera Utara ditanya soal pernyataan Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew tentang gembong teroris di Indonesia, ia mengatakan, pada saatnya nanti akan mengajarkan demokratisasi di Singapura. Namun, sambungnya, media massa mengutip ia akan melakukan demo di Singapura. 

    Dalam acara itu, ia mengungkapkan pertemuannya dengan Ketua MPR Amien Rais di Cengkareng, Kamis sore tadi. Dalam pertemuan itu Amien sempat menyebut pemerintah sekarang terlalu banyak menjual aset negara. Gus Dur mengaku memberi nasehat kepada Amien untuk membaca salah chapter bukunya yang disebut PPAN atau Pemerintah Penjual Aset Negara. 
    Pramoedya Ananta Toer, yang diminta tanggapannya tentang buku biografi Gus Dur, mengaku belum membaca, namun ia menilai buku-buku biografi tokoh terkemuka di Indonesia lebih banyak ditulis orang asing. "Bukan hanya biografi, tetapi juga buku sejarah mungkin karena objektifitas dipandang sangat tinggi," kata Pramoedya. 

    Sedangkan Greg Burton, sang penulis buku yang juga dosen senior di Deakin University, Geelong, Victoria, Australia, mengaku mengenal Gus Dur sejak melakukan riset untuk menyelesaikan program S-3 akhir tahun 1980-an, namun mulai intens dan tertarik lebih mengenalnya tahun 1996. "Tapi terus terang saja pada saat itu saya agak malas untuk mengerjakan riset tentang Gus Dur pribadi, saya lebih kepada NU-nya," demikian Greg Barton.(Sumber:kcm)