Demokrasi harus berlandaskan kedaulatan hukum dan persamaan setiap warga negara tenpa mebedakan latar belakang ras, suku agama dan asal muasal, di muka-undang-undang.
News
-
Tahlilan 40 hari Gus Dur (II)
Persembahan Seniman untuk Sang Begawan
Jakarta-gusdur.net. Acara tahlilan tidak berhenti pada penyerahan buku saja. Panitia rupanya memutar film repertoar perjalanan Gus Dur dalam film documenter sepanjang 10 menit. Dilanjutkan dengan penampilan para seniman: Ebiet G. Ade, Romo Mujdi Sutrisno, Sam Bimbo, dan Acep Zamzam Noer.
"Ketika engkau datang menawarkan gagasan, kulihat di matamu tak ada yang kau sembunyikan. Aku mulai bertanya di mana cakrawala, langit seperti tak cerah tatkala engkau tersenyum," demikian petikan lirik lagu Ebiet G. Ade, seolah menggambarkan pribadi Gus Dur.
Ebiet juga menyanyikan lagu Titip Rindu Buat Ayah. Lagu ini khusus dinyanyikan Ebiet karena teringat janjinya kepada Gus Dur saat keduanya bertemu di acara penganugerahan Guru Besar untuk Quraish Shihab pertengahan tahun lalu di UIN Jakarta-Gus Dur menagih Ebiet untuk menyanyikan lagu tersebut tapi ia lupa. "Pada waktu itu saya sempat mengatakan bahwa saya berjanji, Insyaallah, saya akan menyanyikannya untuk GD. Tapi Tuhan rupanya belum mengizinkan saya untuk menyanyi di hadapan beliau secara harfiah. Semoga saja nyanyian saya malam ini, sampai melalui kita semua," terangnya sebelum mulai memetik gitar.
Selain mengucapkan duka cita mendalam, Ebiet juga menghaturkan terima kasih kepada Shinta Nuriyah karena Gus Dur pernah memberinya doa yang terus diamalkannya sampai kini. "Dan itu membawa keterangan yang luar biasa," katanya.
Rm Muji Sutrisno menceritakan kenangannya yang paling mendalam terhadap Gus Dur. Yakni, pertemuan di Gedungsongo, Ambarawa bersama tokoh lintas agama lainnya seperti Th Sumartono (alm.) dan Ibu Gedong di. "Romo Mangun, Romo Muji, dan saya itu berbeda agama tapi kita satu dalam keimanan. Dalam religiusitas, dalam keimanan kita satu," kata Romo Muji menirukan ucapan Gus Dur di depan umum ketika itu. Akan tetapi, menurut Romo Muji, tidak semua orang bisa seperti Gus Dur karena mereka hanya having religion, beragama, bukan being religious, menghayati keimanan.
Romo Muji membacakan puisi pendeknya yang ditulis pada tanggal 30 Desember lalu-untuk memperingati 27 penhabisannya sebagai Romo, dan ternyata berbarengan dengan meninggalnya Gus Dur. "Gus Dur pulang, Rembang petang, Merah putih setengah tiang, Engkau pulang," katanya.
Puisinya kedua dari Romo Muji berbahasa Jawa yang ditembangkan dengan irama tertentu. Intinya, tentang pluralisme. "Kita ini seumpama perahu di tengah samudra, mencoba meneruskan pikiran GD. Dan pikiran itu adalah, seperti malam hari ini, kita merasa berdoa dengan beragama doa, tapi tujuan kita mendengarkan semua doa itu dan kita merasa nyaman," jelasnya. Itulah yang disebut pluralisme yang diamalkan hari ini.
Sam Bimbo menyanyikan lagu istimewa, "Innalillahi" (Kepada-Nya Kita Kembali, Red.), yang bercerita tentang kepulangan makhluk kepada Tuhannya, juga tentang duka cita. "Waktu Gus Dur kedengaran sakit, masuk rumah sakit, saya ke studio membuka-buka file dari hard disk, saya mencari lagu dan ketemu lagu berjudul Innalillahi," kata pentolan grup Sam Bimbo tentang lagu ini yang sudah dirintisnya dua atau tiga tahun laku itu. Waktu itu, kata Sam Bimbo, dia merasa tidak enak seperti merasakan bahwa Gus Dur akan berpulang. Dan benar, ternyata begitu lagu tersebut diketemukan, datang telepon yang membenarkan perasaannya itu.
Lagu ini juga aneh bagi Sam. "Waktu kami rekam, karena kepepet waktu, akhirnya yang menyanyikan adalah paduan suara Unpad. Dan paduan suara Unpad itu, mahasiswanya ada yang beragama Islam, Katolik, Protestan. Jadi itu pas buat GD, tokoh dari pluralism," tambah Sam yang bertemu Gus Dur di acara Tamaddun Islam di Malaysia pada tahun 1992 itu. Ia juga mengingatkan bahwa kita semua adalah titipan, termasuk Gus Dur, yang akan kembali kepada-Nya suatu saat nanti melalui lagu keduanya, "Barang Titipan".
Penampilan ditutup dengan puisi Acep Zamzam Noer. Pegiat komunitas Azan di Tasikmalaya itu mengaku tak pernah dekat secara pribadi dengan Gus Dur, tetapi selalu mengikuti pemikiran Gus Dur meskipun dari jauh. Tentu saja ia sedang merendah-Acep adalah putra KH Ilyas Ruhiyat, sosok ajengan dari Pesantren Cipasung Tasikmalaya yang dekat dengan Gus Dur terutama semasa keduanya memimpin NU (NN).
Indonesia
English








Print
Email
Comment
Share