Salurkan sumbangan Anda ke Dompet Gus Dur untuk bencana atas nama Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid di Bank Mandiri No. Rekening 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara - Jakarta / Kode Swift: BMRIIDJA <---> Transfer your donation for Wasior, Mentawai and Merapi victims through Dompet Gus Dur to Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid (Account Number: 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara Jakarta 12190 - Indonesia / SWIFT Code: BMRIIDJA)

Indonesia English


Demokrasi harus berlandaskan kedaulatan hukum dan persamaan setiap warga negara tenpa mebedakan latar belakang ras, suku agama dan asal muasal, di muka-undang-undang.

News

    Kelas Gus Dur

    Yenny Wahid: Gus Dur Atasi Konflik lewat Komunikasi dan Kemanusiaan

    JAKARTA-GUSDUR.NET. Salah satu hal yang menonjol dari almarhum KH. Abdurrahman Wahid atau yang kita kenal Gus Dur adalah perjuangannya menegakkan perdamaian di muka bumi, bukan hanya di Indonesia. Tentu tidak mudah mewujudkan mimpi indah ini, karenanya dibutuhkan upaya-upaya yang serius untuk mewujudkan cita-cita perdamaian ini.

    Demikian dikatakan Direktur Wahid Institute Yenny Zannuba Wahid dalam sambutannya membuka acara ‘Kelas Gus Dur, Konflik dan Perdamaian' yang diselenggarakan oleh Wahid Institute di kantornya Jl. Taman Amir Hamzah No. 8 Jakarta, Kamis (3/6) sore.

    Yenny mengatakan bahwa salah satu ciri yang menonjol dari Gus Dur dalam kiprahnya mengatasi konflik adalah pertama komunikasi, komunikasi ke semua pihak. "Dari awal sikap yang diambil Gus Dur adalah kalau ingin bertindak sebagai wasit yang adil, kalau ingin betul-betul berusaha membuka ruang bagi perdamaian harus ada komunikasi dengan semua pihak", kata Yenny mencontohkan.

    Kemudian putri Gus Dur ini mencontohkan bagaimana sikap dan andil Gus Dur dalam memperjuangkan perdamaian di Timur Tengah yakni menjalin hubungannya dengan pihak Israel, dimana sikap publik Indonesia saat itu betul-betul mencemooh aksi Gus Dur ini. Namun dari sini, Gus Dur kemudian tidak canggung untuk menelorkan gagasan tentang perlunya hubungan diplomatik dengan pihak Israel.                

    "Kalau sekarang (pemerintahan SBY, red) posisi Indonesia kita sama-sama tahu tidak punya hubungan diplomatik kan. Jadi memang agak sulit mau menjadi pemain yang besar dalam masalah (perdamaian) Timur Tengah yang susah", kritik Yenny.

    Mantan reporter The Sydney Morning Herald ini melanjutkan bagaimana ciri Gus Dur yang kedua dalam mengatasi konflik selain komunikasi adalah landasan kemanusiaan. "karena berpegangan kepada beberapa hal tersebut (landasan kemanusiaan) membuat Gus Dur jauh lebih fleksibel dari pemimpin yang lain dalam mencoba untuk membaurkan kebuntuan dan kebekuan komunikasi yang selama ini ada", jelas Yenny.

    Out of the box

    Penjelasan yang lebih kongkret mengenai konflik dipaparkan oleh Direktur Eksekutif Wahid Institute Ahmad Suaedy yang turut memberikan pengantar kelas Gus Dur Konflik dan Perdamaian.

    Menurut Suaedy salah satu karakter yang unik dari Gus Dur dalam melihat semua hal, terutama konflik dan perdamaian adalah karakternya yang out of the box. "Jadi sulit diprediksi, tidak mengikuti prosedur, menyalahi tradisi dan seterusnya", papar Suaedy.   

    Suaedy lantas mencontohkan bagaimana saat Gus Dur menjabat sebagai Presiden begitu gigih dalam upayanya mendamaikan konflik GAM (gerakan Aceh merdeka) di Aceh. Yang dilakukan Gus Dur adalah mempertemukan Hasan Tiro (deklarator GAM) dengan pemimpin besar MILF (Mindanao islamic liberation front)-sebuah gerakan separatis di Filipina Selatan-Hasyim Salamat.

    "Tidak terbayangkan, sesama gerakan separatis ditemukan oleh Gus Dur di suatu tempat (Swedia) dalam rangka menyelesaikan konflik GAM di Aceh", papar Suaedy menceritakan saat penelitiannya di Filipina Selatan dan Thailand Selatan.   

    Seperti diketahui, kelas Gus Dur ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin mengaji mengenai konflik dan perdamaian baik secara teoritik maupun empirik. Disini juga akan dikaji pemikiran dan berbagai peran Gus Dur dalam menyelesaikan konflik dan menciptakan perdamaian baik di Indonesia maupun dunia.

    Dari peserta yang berhasil terjaring dalam kelas ini diketahui berjumlah 33 orang dengan berbagai latar belakang profesi dan keilmuan, baik pengacara, mahasiswa, aktifis HAM, aktifis perempuan, agamawan (Kristen), dan lainnya. Acara ini akan dipandu oleh fasilitator dan dosen yang secara keilmuan mumpuni seperti Ihsan Malik, Thamrin Amal Tomagola, Frans Magnis Suseno, Hikmat Budiman, Nurhaidi Hasan, Ph. D, Dr. Abd Moqsith Ghazali, M Sobary. Juga dari Wahid Institute seperti Rumadi dan Ahmad Suaedy. (wrf)