Kembali ke 2 Kumpulan Tulisan Bersama

KH. A. Wahid Hasyim dalam Pandangan Dua Puteranya

2 Kumpulan Tulisan Bersama
KH. A. Wahid Hasyim dalam Pandangan Dua Puteranya
Judul
KH. A. Wahid Hasyim dalam Pandangan Dua Puteranya
Editor (Penyunting)
Fatimatuh Zahra
Penerbit
Pustaka Tebuireng, Jombang Jawa Timur, 2015 (cetakan ke-1)
Kategori
, ,
Arsip Tahun

Judul Tulisan

Sinopsis

Buku ini adalah kumpulan artikel (Gus Dur dan Gus Salah) di Harian Media Indonesia pada bulan Oktober-November 1998, yang mengambil inspirasi dari gagasan ayahanda, Kiai Wahid Hasyim.

 

Buku yang berisi silang pendapat antara kakak-adik ini menunjukkan sisi intelektualitas beliau berdua. Berawal dari tulisan Gus Dur dengan judul A. Wahid Hasyim, NU dan Islam. Lalu dibalas oleh Gus Salah dengan tulisan A. Wahid Hasyim, Pancasila dan Islam. Hingga berlanjut masing-masing penulis membuat tiga kolom yang mengulas hubungan agama dan negara.

 

Bagi sebagian orang adu pendapat ini dianggap sebagai perseteruan kakak-adik, namun bagi yang lain justru hal ini keren dan beginilah yang harusnya terjadi di kalangan elit, yakni uji gagasan dan menghargai perbedaan dengan cara yang elegan, menulis.

 

Namun dari cara pandang yang berbeda antara keduanya itu menjadikan pemikiran Kiai Wahid Hasyim sebagai muara, titik temu, sandaran berpikir.

 

Runtuhnya Orde Baru menjadi era keterbukaan. Siapapun boleh mendirikan ormas atau partai, tanpa sembunyi-sembunyi. Partai atau gerakan keagamaan yang didirikan pun bermacam-macam, ada yang bernafaskan nasionalis maupun agama.

 

Namun yang menjadi problem adalah masih ada umat Islam atau gerakan Islam yang mempertanyakan keberadaan Pancasila sebagai dasar negara, yang mana mereka berkeinginan untuk membuat formalisasi/syariatisasi Islam dalam produk hukum negara.

 

Gus Dur lalu tergelitik membuat tulisan dari inspirasi ayahandanya. Tulisan Gus Dur diawali dengan sebuah kisah dari sosok eks CPM (Corps Polisi Militer),  Soewarno. Soewarno merupakan prajurit yang selalu mendampingi Panglima Besar Jendral Soedirman. Berdasarkan cerita Sowarno, ia pernah bertemu Kiai Wahid Hasyim, dan menceritakan apa yang dikatakan Kiai Wahid tentang Pancasila. Kiai Wahid, dalam hal bernegara, memandang kedudukan (supremasi) Pancasila lebih tinggi dibanding syari’ah (hukum Islam).

 

Selain itu, sebagaimana yang diceritakan Munawir Sjadzali (Menteri Agama Era Soeharto), Kiai Wahid Hasyim pernah kecewa sepulangnya dari Kongres Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPPI). Kekecewaan Kiai Wahid karena banyak para ulama atau kiai NU yang tidak menganggap kedudukan Pancasila.

 

Di mata Gus Dur, Kiai Wahid memandang Pancasila lebih unggul (supremasi) dibanding agama. Hal itu tercermin saat beliau menjabat Menteri Agama, di mana beliau menerima siswi untuk bersekolah di SGHAN (Sekolah Guru Hakim Agama Negeri), yang sekarang ini bernama IAIN/UIN. Cara pandang Kiai Wahid ini diamini oleh Gus Dur, bahwa agama itu urusan personal, sementara negara itu duniawi, maka negara tidak perlu mengatur agama atau keyakinan masing-masing individu.

 

Dalam tulisannya itu, Gus Dur juga menyatakan bahwa NU, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki andil besar dalam penerimaan Pancasila, hal itu berdasarkan keputusan Bahtsul Masa’il di Banjarmasin pada tahun 1935 hingga keputusan Muktamar Situbondo 1984, yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal.

 

Gus Dur menilai bahwa pemikiran ayahnya itu sangat dinamis dan terbuka, yang berdampak pada organisasi NU hingga saat ini.

 

Gus Dur menganggap bahwa Kiai Wahid berpandangan sekuler, sementara Gus Salah adalah sebaliknya. Bagi Gus Salah, menolak sekuler bukan berarti menyetujui formalisasi atau syariatisasi Islam secara absolut. Namun ada wilayah tertentu dalam syariat (nilai) yang bisa diadopsi pada hukum positif,

 

Gagasan Gus Dur di atas itu juga kemudian menarik Gus Salah untuk membuat tulisan di media yang sama. Gus Salah menganalisis apa yang dikisahkan oleh Soewarno, bisa jadi benar demikian, namun ada kemungkinan yang ditangkap oleh Soewarno belum tentu sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Kiai Wahid Hasyim.

 

Gus Salah lalu menjelaskan beberapa poin, antara lain, sila pertama dalam Pancasila yang menyebutkan bahwa negara kita bukan negara teokrasi (untuk agama tertentu) dan bukan pula negara sekuler, justru sila pertama menegaskan tentang monoteisme (ketauhidan), dalam akidah Islam tercantum pada surat al-Ikhlas.

 

Bagi Gus Salah Pancasila dan agama berjalan beriringan, tidak dapat dipisahkan atau dibuang yang satu lalu mengunggulkan yang lain. Namun saling melengkapi.

 

Namun yang menjadi catatan penting adalah bagaimana prinsip undang-undang itu bernilai musyawarah (syuro), tidak memberatkan dan mempersulit, memenuhi hajat kepentingan umum, dan menjamin terwujudnya keadilan.