Kembali ke Judul Buku

Terorisme di Tengah Arus Global Demokrasi

Kumpulan Tulisan Bersama
Terorisme di Tengah Arus Global Demokrasi
Judul
Terorisme di Tengah Arus Global Demokrasi
Editor (Penyunting)
Syahdatul Kahfi
Penerbit
SPECTRUM, Jakarta 2006
Kategori
, ,
Arsip Tahun

Sinopsis

Isu jihad dan terorisme, yang kemudian dikaitkan dengan gerakan fundamentalisme, sekarang menjadi persoalan dominan dalam wacana dan praktek politik di sebuah negeri yang sedang menata diri pasca jatuhnya regim otoriter Orde Baru. Demikian dominannya, sehingga wacana dan praktek politik ‘dibajak’ ke arah lain, yakni bagaimana membuat perangkat hukum yang memadai yang memungkinkan institusi keamanan melakukan langkah untuk mencegah atau menindak secara preventif aksi-aksi kekerasan yang terjadi belakangan ini. Harus diakui, bahwa selama ini aparat keamanan selalu ketinggalan satu langkah dalam menghadapi aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh pelaku peledakan bom.

 

Persoalannya, memberikan wewenang yang kepada aparat keamanan yang demikian besar untuk memberantas tindak dan aksi terorisme di negeri ini, jangan sampai kelewat batas yang mengarah kepada extra judicial. Rakyat negeri ini, belum lama menikmati kebebasan politik dan pada berbagai level, sedang dalam proses konsolidasi untuk menata institusi politik yang ada. Harus diakui, di tengah proses konsolidasi politik itu, rakyat pada tataran luas mulai jengah dan tidak sabar dengan situasi yang ada. Keterbukaan politik ternyata membuat ketidakstabilan, sementara masalah masyarakat cukup mendesak. Setelah dicabutnya berbagai subsidi, terutama BBM, membuat harga-harga naik sementara lapangan kerja sangat terbatas.

 

Pada situasi dan kondisi seperti itu, munculnya terorisme betul-betul meluluh lantakkan segala proses konsolidasi politik yang terjadi. Masyarakat luas menjadi takut, investasi menahan diri, sementara pada level politik kenegaraan diwarnai oleh dominannya vested interest aktor-aktor, atau kelompok-kelompok baik golongan maupun institusi politik diwarnai dengan aroma KKN.

 

Semua agenda politik itu, menjadi dilupakan oleh aksi-aksi terorisme yang terjadi. Puncaknya sejak serangan terhadap gedung WTC, kemudian disusul bom Bali. Serentetan aksi itu, oleh karena mengatasnamakan perjuangan Islam, maka Islam kemudian menjadi “tertuduh”. Tuduhan pertama, sebagai agama kekerasan dan yang kedua sebagai agama yang tidak mendukung demokrasi.

 

Signifikansi buku ini, adalah mencoba memetakan persoalan terorisme tidak dalam kaca mata tunggal, tetapi dikaitkan dengan konteks demokratisasi di negeri ini. Fundamentalisme Islam vis a vis memang berhadapan dengan konsepsi demokrasi. Memberantas terorisme, memang suatu masalah utama tetapi jangan sampai menghancurkan fondasi kebebasan politik yang sekian lama diperjuangan oleh banyak kalangan di negeri ini.

 

Jangan sampai isu terorisme, digunakan oleh berbagai kalangan untuk membelokkan arah upaya transisi demokrasi. Ini tugas penting semua kalangan di negeri ini, siapa pun dia.