High Noon In Jakarta, 2001 – Australian Broadcast Corporations (ABC)

YouTube Channel: AM. MUBAROK
Tanggal Upload: 12 Agustus 2021

Transkrip Video:

Deskripsi Video:

High Noon In Jakarta, sebuah film dokumenter KH Abdurrahman Wahid yang direkomendasikan oleh Inayah Wahid. Putri bungsu Al Maghfurlah Presiden ke-4 RI Gus Dur, Inayah Wahid, itu mereferensikan sebuah film dokumentasi yang menggambarkan keputusan berani GD sehingga membuat para politisi bandit kesal dan menjatuhkannya dari kursi presiden.

“Salah satu alasan yang bikin kesel adalah tindakan GD (Gus Dur) terhadap Pak Wiranto. Tindakannya kayak apa, salah satu referensi yg bagus adalah film “High Noon in Jakarta”-nya Curtis Levy yang mendokumentasikan tindakan GD yg minta Pak Wir utk turun krn saat itu ditengarai tersangkut kasus pelanggaran HAM di Timor Leste. Iya, tindakannya bukan berusaha membuka penyamaran Pak Wir ketika jd kenek, bukan. Oia, filmnya bisa ditonton di YT l9h gaes. Mending nonton ginian lah, drp nonton artis ngeprank mulu!” tulis Inayah Wahid yang akrab disapa Nay di akun Instagramnya, Juli 2021.

CEO TV9 Nusantara, Ahmad Hakim Jayli, mengulas film dokumenter dimaksud Mbak Nay itu dalam tulisannya yang berjudul “High Noon in Jakarta: Kisah Keberanian Gus Dur Melawan Politisi Bandit.” Kata Hakim, film ini tidak beredar di gedung bioskop 21 atau XXI. Film ini beredar di kalangan para aktivis di seputaran tahun 2001, pasca Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid, dijerat dengan pasal politik yang tak masuk akal dan berujung pelengseran.

Hakim melanjutkan, Gus Dur sebagai presiden emoh mengkompromikan hal prinsip yang itu sudah dikunci mati dalam konstitusi negara. Walau dikeroyok oleh para politisi yang dulu mendukungnya di Pemilihan Presiden 1999, Presiden Gus Dur tak gentar. Dia berani menghadapinya sendirian, bahkan ketika tak didukung oleh kekuatan militer, di mana ia adalah Panglima Tertingginya.

Nah, film tadi bercerita tentang keberanian Presiden yang juga merupakan cucu Hadratus Syekh Hasyim Asy’ary. Adalah sutradara asal Australia, Curtis Levy yang membesutnya. Diproduksi dan ditayangkan Australian Broadcast Corporations (ABC). High Noon in Jakarta dengan apik, epik dan apa adanya, merekam satu ruas sejarah Indonesia tentang keberanian seorang Presiden bernama Gus Dur dalam mengambil keputusan penting berefek internasional terkait pelanggaran HAM di Timor Leste yang melibatkan militer Indonesia.

Menko Polkam saat itu, Wiranto dianggap terlibat dan harus bertanggung jawab karena memegang pucuk pimpinan militer ketika peristiwa itu terjadi. Gus Dur akhirnya memang menonaktifkan Jendral Wiranto dari posisinya sebagai Menko Polkam, dalam situasi politik di mana Presiden (sebenarnya) butuh back-up militer secara politik, mengingat posisi pemerintahan transisi kala itu.

Keberanian Gus Dur itu oleh Levy disandingkan dengan keberanian & kesatriaan seorang sheriff dalam film High Noon, hanya sendirian melawan sekawanan bandit yang menantang duel di siang bolong.

—–
Pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari dalam Istana Kepresidenan di Jakarta saat Presiden KH Abdurrahman Wahid mengambil alih kekuasaan militer dalam pertempuran taktis mengenai siapa yang akan memimpin Indonesia.

Pembuat film pemenang penghargaan, Curtis Levy, tinggal di istana Presiden selama empat bulan untuk membuat penggambaran intim tentang hidupnya ini. Abdurrahman Wahid, yang dikenal sebagai Gus Dur, sebenarnya telah mengalami dua kali stroke. Dia dalam arti seorang pria renaisans yang suka mendengarkan Beethoven dan Janis Joplin. Sebelum kehilangan penglihatannya, Gus Dur adalah penggemar berat film-film seperti High Noon dan film-film Francois Truffaut.

Syuting berlangsung pada saat Abdurrahman Wahid terkunci dalam perjuangan do-or-die dengan Jenderal Wiranto. Jenderal itu adalah orang kuat mantan diktator, Soeharto, dan bertanggung jawab atas tentara Indonesia selama pemecatan Timor Timur setelah referendum. Selama film itu, Presiden Wahid mengungguli Wiranto dengan cara yang hampir sama seperti seorang pecatur ahli mengecoh lawannya.

Sebelum menjadi Presiden, Wahid adalah ketua organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama, dengan 34 juta pengikut. Levy pertama kali memfilmkan Abdurrahman Wahid ketika dia dianggap menjadi duri bagi Presiden Soeharto, karena berkampanye untuk reformasi demokrasi. Levy tetap berteman dengan Wahid selama bertahun-tahun dan ketika Wahid menjadi Presiden, dia mengundangnya untuk datang ke Jakarta untuk membuat film.

Levy bergabung dengan Presiden setiap hari pada pukul 4.30 pagi untuk jalan-jalan pagi beberapa putaran di sekitar istana, kemudian menemaninya dalam rangkaian pertemuan yang sibuk, merekam pertemuan dengan para pemimpin dunia seperti Xanana Gusmao dan Kofi Anan. Selama krisis dengan Jenderal Wiranto, Levy menemani Wahid dalam perjalanan melalui 13 negara dalam 16 hari untuk mengumpulkan dukungan internasional. Dalam perjalanan itulah Wahid memutuskan untuk memecat Jenderal Wiranto.

External link : https://www.imdb.com/title/tt5504126/