Kembali ke Judul Buku

Mengurai Hubungan Agama dan Negara

Judul
Mengurai Hubungan Agama dan Negara
Penulis
Editor: Kacung Marijan, Ma'mun Murod Al-Brebesy
Penerbit
PT. Grasindo, Jakarta, 1999 (cetakan ke-1)
Kategori
, ,
Arsip Tahun

Judul Tulisan

Bagian Satu: Pendahuluan

  • Gus Dur dan Kontemplasi Teoritisnya
    oleh Kacung Marijan

 

Bagian Dua: Biografi

  • Biografi Abdurrahman Wahid
    oleh Ma’mun Murod Al-Brebesy

 

Bagian Tiga: Agama dan Negara

 

Bagian Empat: Agama, Demokrasi, dan Pemberdayaan Civil Society

 

Bagian Lima: Kepemimpinan Umat Islam: Antara Eksklusivisme dengan Inklusivisme

 

Bagian Enam: NU dalam Dinamika Politik Bangsa

Sinopsis

Senantiasa konflikkah hubungan antara agama dan negara? Dapatkah keduanya didamaikan? Bisakah sebuah negara-agama menjamin dan melaksanakan demokrasi? Selalukah negara-agama membangun sebuah negara teokratis yang dilandasi akidah?

 

Jawaban atas pertanyaan itu sekilas tampak dilematis: tak mungkin didamaikan. Namun, Abdurrahman Wahid, ahli asal usul sejarah Islam di Indonesia, punya pandangan sendiri. Menurutnya, untuk mengurai dilema negara-agama mau tidak mau harus dilakukan transformasi interen: agama harus merumuskan kembali pandangan-pandangannya mengenai martabat manusia, kesejajaran kedudukan semua manusia di muka undang-undang dan solidaritas hakiki antara semua umat manusia. Melalui upaya inilah tiap agama dapat berintegrasi dengan keyakinan-keyakinan lain dalam bentuk pencapaian sejumlah nilai-nilai dasar universal yang mendudukkan hubungan antar- agama pada sebuah tataran baru.

 

Tataran baru itu adalah tahap pelayanan konkret yang diberikan agama kepada warga masyarakat tanpa pandang bulu, seperti: penanggulangan kemiskinan, penegakan kedaulatan hukum dan kebebasan menyatakan pendapat. Apabila sebuah agama memasuki tataran baru ini, barulah ia berfungsi melakukan pembebasan (tahrir, liberation). Hanya agama yang berwatak membebaskan yang dapat memberikan sumbangan bagi proses demokrasi.

 

Tahrir adalah tema sentral perjuangan dan obsesi Gus Dur sejak dulu. Akankah Gus Dur tetap konsisten dengan perjuangan itu, setelah ia menjadi orang nomor satu di republik ini?