Kembali ke Judul Buku

Menggerakkan Tradisi — Esai-Esai Pesantren

Judul
Menggerakkan Tradisi — Esai-Esai Pesantren
Penulis
Editor: Hairus Salim HS
Penerbit
LKiS Yogyakarta, Maret 2001 (cetakan ke-1)
Kategori
, ,
Arsip Tahun

Sinopsis

Ini adalah buku karya-karya Abdurrahman Wahid. Kali ini, temanya bersifat spesifik yaitu Pesantren. Gus Dur sudah terkenal sebagai tokoh yang berasal dari pesantren, kendati demikian, sedikit sekali masyarakat yang tahu bagaimana sebenarnya pemikiran Gus Dur  mengenai pesantren dalam menghadapi gelombang perubahan.

Esai-esai dalam buku ini sebelumnnya pernah dimuat Kompas, Jurnal Pesantren, dan beberapa diantaranya merupakan bahan presentasi di berbagai seminar dan pelatihan. Rentang waktu perumusannya antara awal tahun 1970-an hingga akhir tahun 1980-an, tahun-tahun dilancarkannya program pembangunan (medernisasi) oleh rezim Orde Baru. Dengan demikian, fokus penting dalam esai-esai ini adalah hubungan pesantren, negara, dan pembangunan. Berseberangan dengan pandangan pemegang kebijakan dan para pengamat saat itu, Gus Dur menegaskan bahwa pesantren bersifat dinamis, terbuka pada perubahan, dan mampu menjadi penggerak perubahan yang diinginkan.

Selain elaborasi terhadap hubungan pesantren dan pembangunan, esai-esai ini juga memuat deskripsi dari budaya pesantren, yang disebut Gus Dur sebagai “subkultur” tersendiri. Deskripsi Gus Dur ini turut mempersempit kesenjangan dan kekeliruan pengertian antara pihak luar dan pihak dalam mengenai dunia pesantren.

“Tawaran Pembangunan” yang dikemukakan oleh Gus Dur untuk Pesantren, seperti dalam hal penyusunan kurikulum, peningkatan sarana, pembenahan manajemen kepemimpinan, pengembangan watak mandiri, dan beberapa yang lainnya tetap merupakan agenda pesantren hingga sekarang ini. Tawaran agenda ini yang dulu sangat asing dan sempat mengundang kecurigaan, beberapa di antaranya memang telah dijalankan oleh kalangan pesantren, sehingga ini sudah tidak asing lagi.

Buku ini bisa menjadi suatu peta sejarah pemikiran pendidikan dan  pergumulan suatu sub-budaya (pesantren) berhadapan dengan gagasan-gagasan dari luar, gagasan modernisasi.