Pesantren dan Pengembangannya

Foto: Kompas.com egional.kompas.com/read/2022/01/17/114227378/asal-usul-pesantren-dan-perkembangannya-dari-masa-ke-masa?page=all

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid

Selama 6 tahun terakhir ini telaha berlangsung perubahan cukup mendasar di kalangan pesantren, karena penerapan-penerapan beberapa pola pengembangan didalamnya. Proyek-proyek pengembangan itu ada yang berskala besar, ada pula yang bersekala kecil, tetapi secara keseluruhan telah merubah arah perkembangan kehidupan di pesantren sendiri dari garis yang semula ditempuhnya secara umum.

Ada tiga pola pengembangan yang dapat dibedakan satu dari yang lain. Pertama, pola pendidikan ketrampilan yang ditawarkan dan dikelola oleh departemen Agama, pola mana sekarang telah diikuti oleh lebih dari 100 buah pesantren. Kedua, pola pengembangan yang dirintis dan diprakarsai oleh LP3ES dalam kerjasama dengan berbagai Lembaga, baik Pemerintah maupun luar negeri. Ketiga, pola pengembangan sporadic yang ditempuh oleh beberapa pesantren utama secara sendiri-sendiri, tanpa tema tunggal yang mengikat kesemua upaya mereka itu, dan dilaksanakan menurut persepsi dan aspirasi masing-masing.

Ketiga pola pengembangan itu ironisnya telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa pengetahuan daasar yang cukup tentang asal-usul pesantren, eksistensinya sebagai lembaga pendidikan, fungsi kemasyarakatan yang dimilikinya, dan tempatnya yang sebenarnya dalam stratifikasi kehidupan masyarakat di pedesaan dimana mayoritas pesantren itu sendiri terletak di salamnya.

Data-data primer utama tentang pesantren baru diperoleh secara lengkap dari satu dua pesantren yang menjadi objek penelitian, seperti pesantren Al-Falak di Pagentongan (Bogor) yang dimuat analisanya dalam buku “Profil Pesantren” terbitan LP3ES di Jakarta tahun 1974. Sudah tentu data yang bersekala kecil itu tisdak cukup untuk melandasi kebijaksanaan bersekala luas yang menyangkut semua pesantren.

Demikian pula literatur lain tentang pesantren masih bersifat amat terbatas. Selain beberapa puluh artikel yang terserak-serak diberbagai media, seperti yang didaftar oleh M. Amin Mansur dalam sebuah bibliografi kecil yang disusunnya atas biaya LIPI dalam tahun 1976, baru ada beberapa kaarya tulis berbentuk buku atau artikel ilmiyah yang panjang tentang pesantren. Di samping artikel dalam “The Encyclopedia of Islam”, terdapat pula deskripsi C. Geertz tentang pesantren dalam bukunya “The Religion Of Java” (1960), tulisan Lance Castles tentang Pondok Modern Gontor di Ponorogo, buku reader “Pesantren an Pembaharuan” yang di edit oleh M. Dawam Rahardjo (1974), dan disertai M.A. tentang pesantren yang diajukan oleh M. hafiz Dasuki di Universitas McGill. Dewasa ini tengah dilalukan pengkajian antropologi atas pesantren Tebuireng (Jombang) oleh seorang graduate-fellow bagi pencapaian gelar doctor dari Australia National University.

Tiga Bentuk Kegiatan Pokok

Tiga pengembangan sporadik dibeberapa pesantren utama telah mengambil tiga bentuk kegiatan pokok. Pertama, pengembangan yang mengambil bentuk berdirinya beberapa sekolah non-agama (seperti SMP dan SMP) disamping sekolah-sekolah agama tradisional yang telah ada di pesantren, seperti yang terjadi di pesantren Paiton (Kraksaan), Cipasung (Tasikmalaya), Tebuireng dan Rejoso (Jombang). Bentuk yang kedua adalah kegiatan pokok berupa penyempurnaan kurikulum campuran “agama dan umum” yang telah diramu beberapa puluh tahun dan kemudian di kembangkan dalam lembaga-lembaga pendidikan, tingkat tinggi yang berupa fakultas-fakultas agama, contoh utama dari kegiatan ini adalah pematangan kurikulum pondok modern Gontor hingga membuahkan perguruan tinggi agama Institut Pendidika Darussalam. Bentuk kegiatan pokok ketiga dari pengembanga sporadis ini adalah munculnya beberapa belas pesantren baru yang berbeda pola kehidupannya dari pola umum kepesantrenan yang telah ada selama ini, seperti halnya dengan berdidirnya beberapa belas PKP (Pondok Karya Pembangunan) dengan mengambil pola “pembinaan dari atas” oleh pemerintah daerah stempat atau organisasi-organisasi kemasyarakatan yang lainnya.

Pola ini jelas bertolak belakang dengan pola umum berdirinya pesantren oleh  upaya perorangan dari seorang kiai yang  mendirikan pesantrennya dari sedikit demi sedikit secara berangsur-angsur atas dasar dukungan masyarakat dari bawah.

Pola pengembangan sporadis ini, walaupun tidak memiliki tema yang jelas dan tunggal, tetapi telah memiliki intensitas kerja cukup tinggi dan mempunyai pengaruh yang mendalam serta meluas, karena dilaksanakan oleh pesantren-pesantren utama yang berpengaruh luas pula.

Pola pembangunan kedua, yaitu pendidikan ketrampulan di pesantren, mulai dicetuskan oleh bekas Menteri agama H.A. Mukti Ali. Dalam waktu hanya 6 tahun pola ini telah mengalami beberapa perubahan dalam dirinya. Semula pendidikan ketrampilan hanya dimaksudkan sebagai program pelengkap untuk memperkenalkan dan mengembangkan penghargaan kepada nilai penting dari kerja tangan sebagai pengganti intelektualisme keagamaan yang bersifat verbalistis yang telah berabad-abad melatarbelakangi sikap hidup keluarga pesantren, menurut pendapat pencetus gagasan ini.

Tetapi kemudian pola pendidikan keterampilan ini berkembang menjadi program yang dimasukkan kedalam kurikullum sekolah-sekolah agama di pesantren sebagai bagian inti yang tidak kalah dari pelajaran agama skolastik. Pendidikan keterampila itu sendiri lalu dipecah-pecah menjadi komponen yang berbeda-beda, seperti pendidikan kepramukaan, pendidikan kesehatan dan pendidikan kejuruan yang meliputi kejuruan pertanian,kejuruan pertukangan, kejuruan dasar elektronika, dan sebagainya.

Pendidikan ketrampilan ini sebagaimana disebutkan di atas, menjadi bagian dari kurikulum yang diwajibkan oleh Pemerintah bagi sekolah-sekolah agama yang ingin memperoleh persamaan dengan sekolah-sekolah non-agama seperti SMP dan SMA. jadi, disatu pihak ia dapat digunakan sebagai pendidikan pelengkap yang bersifat ekstra kulikuler dan non-formal, dan di pihak lain ia menjadi bagian dari pendidikan formal melalui kurikulum wajib.

Bagaimanapun juga jelas bahwa pendidikan ketrampilan telah turut merubah arah kehidupan pesantren, lebih-lebih karena ia ditopang oleh dukungan Departemen Agama secara moral dan material.

Pola pengembangan yang ketiga dapat dilihat pada serangkaian upaya yang dilakukan oleh LP3ES semenjak tahun 1973, yang berkulminasi pada program latihan Tenaga pengembangan Masyarakat. Dari Pondok Pesantren (LTPM-DPP), yang berlangsung di pesantren Pabelan (Magelang) dari bulan Oktober 1977 hingga permulaan April 1978.

Latihan tersebut, yang dibiayai oleh program Action for Development dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (AD/FAO), hanya diikuti oleh 8 pesantren dengan 20 orang peserta saja, tetapi ia memiliki pengaruh yang justru luas dan mendalam.sebabnya terletak pada kualitas dan bobot pesantren yang mengirimkan peserta, sebagai centres of excellence di bidang pendalaman keterampilan.

Ide dasar dari program ini adalah mendidik sebagian santri untuk menjadi tenaga pengembangan masyarakat (change agents) yang mampu mengetahui kebutuhan pokok masyarakat, menggali sumber-sumber alam dan manusiawi yang dapat dipakai untuk memenuhinya, dan menggerakkan partisipasi masyarakat untuk berfikir membangun pedesaan dalam pola pengembangan yang terpadu. Para peserta di Pabelan itu dididik untuk bekerja dalam konteks UDKP, sehingga kegiatan mereka tidak terlepas dari kaitan program pembangunan desa yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah setempat.

Program ini lebih mudah diterima oleh kalangan pesantren, karena ia seluruhnya brtitik tolak dari motivasi keagamaan dengan menonjolkan faktor utama berupa peningkatan peranan pemuka agama dalam kegiatan pembangunan di pedesaan. Demikian pula, program ini hanya berhasil apabila di dukung partisipasi dari Lembaga-lembaga pengabdian masyarakat dari berbagai kalangan dan agama, seperti Proyek Dana Sehat, Proyek Teknologi Pedesaan, Dian Desa, Taman Siswa dan sebagainya.

Suasana dan jiwa pengabdian merupakan tema utama, berbedda denga pola pendidikan keterampilan yang terutama ditujukan kepada kebutuham material sang anak didik sendiri sebagai perorangan. Dengan demikian program latihan pengembangan masyarakat ini lebih mudah disesuaikan dengan sikap hidup serba mengabdi yang telah tumbuh dan berkembang selama ini di pesantren sendiri.

Masih menjadi pertanyaan dapat atau tidaknya latihan ini dikembangkan lebih jauh dalam rangka menjadikan pesantren sebagai pusat pengembangan masyarakat (Community development centres), sedangkan untuk pertanyaan program latihan ini memerlukan biaya sangat besar dan tenaga pelaksanaan dan pimpinan yang sangat cakap, baik kurikulum latihan, pendekatan pemecahan permasalahan maupum sember-sumber informasi yang digunakan juga masih perlu diteliti ketepatan pendayagunaannya, tetapi kekurangan-kekurangan teknis iitu tidak dapat menutupi kenyataan bahwa pola pengembangan melalui penciptaan change agents ini memiliki potensi yang sangat besar.

Jelasslah dari tinjauan atas tiga pola pengembangan pesantren tersebut, bahwa telah terjadi perubahan mendasar yang cukup drastic bagi jalannya arus kehidupan pesantren dimasa yang akan datang. Namun perubahan mendasar itu sendiri hanya akan ada arti positifnya bagi kita semua jika ia secraa disadari bersama oleh semua kalangan yang bersangkutan diletakkan pada dua jalur utama.

Jalur yang pertama, adalah mengarahkan kesemua perubahan yang dilakukan kepada tujuan mengintegrasikan pesantren sebagai sistem pendidikan kedalam pola umum pendidikan nasional yang membangun dan kreatif. Hanyalah dari tujuan pendidikan seperti ini dapat disimpulkan relevansi yang sesungguhnya bagi pengembangan pesantren itu sendiri.

Jalur yang kedua adalah meletakkan fungsi kemasyarakatan pesantren dalam konteks/kerangka menumbuhkan lembaga-lembaga non-pemerinta (LPN, sebagai ganti Ngo yang menjadi kependekan dari Non Governmental Organization) yang kuat dan matang di pedesaan sehingga mampu menjadi partner yang sesungguhnya bagi pemerintah dalam kerja-kerja pembangunan.

Pembangunan akan berjalan pincang apabila LNP yang ada lemah dan belum terolah secara matang, terutamadalam sikap-sikap kejiwaan yang dimilikinya, karena dengan demikian tidak ada pihak yang mampu menyediakan alternatif-alternatif pemecahan bagi problem-problem pembangunan yang dihadapi pemerintah. Dengan mengarahkan kiprah pembangunan pesantren kepada tujuan menciptakan LPN yang kuat bersama-sama dengan Lembaga-lembaga pengabdian masyarakat yang lainnya, barulah akan dapat dirasakan urgensi kerja yang harus dilakukan oleh pesantren sendiri dan terangnya jalan yang harus ditempuh oleh pesantren dalam memenuhi fungsi kemasyarakatannya.