Kembali ke 1A Kumpulan Tulisan

Membaca Sejarah Nusantara – 25 Kolom Sejarah Gus Dur

1A Kumpulan Tulisan
Membaca Sejarah Nusantara – 25 Kolom Sejarah Gus Dur
Judul
Membaca Sejarah Nusantara – 25 Kolom Sejarah Gus Dur
Penulis
Abdurrahman Wahid
Editor (Penyunting)
M. Imam Aziz
Penerbit
LKiS Printing Cemerlang, Yogyakarta, Januari 2010 (cetakan ke-1)
Kategori
, ,
Arsip Tahun

Sinopsis

Buku ini adalah seri tulisan Gus Dur tentang sejarah. Sebelumnya, tulisan-tulisan dalam buku ini sudah pernah diterbitkan oleh LKiS pada tahun 2002 dalam buku Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahman Wahid Selama Era Lengser. Pasca beliau wafat, LKiS merasa penting untuk menerbitkan ulang (republish) secara khusus tulisan Gus Dur yang bertema sejarah. Jadilah buku yang diberi judul Membaca Sejarah Nusantara. 25 kolom ini ditulis Gus Dur dalam jangka waktu 17 bulan, mulai dari Oktober 2001 hingga Maret 2002.

 

Setidaknya ada tiga hal yang disampaikan oleh Gus Dur dalam buku ini. Pertama, kita diingatkan dengan peristiwa masa lampau, tentang sejarah kerajaan di nusantara, peran-peran penting para tokoh (pelaku sejarah) di masa itu; jasanya hingga hal ihwal yang mengakibatkan kehancuran atau kemunduruan.

 

Seperti jasa terbesar Sultan Agung Hanyokro Kusumo dalam mempersatukan seluruh elemen bangsa dalam sistem pemerintahannya, namun di sisi lain, ia menjadi penguasa yang terkungkung dengan sistem yang diterapkannya sendiri. Ia unggul dalam sistem agraris, namun lemah dalam sisi kemaritiman (kelautan). Mungkin hal ini yang menginspirasi Gus Dur untuk membangun Kementerian Kelautan.

 

Yang kedua, Gus Dur menekankan pada generasi saat tulisannya tayang—pun sekarang—untuk belajar kembali tentang sejarah masa lalu dan melakukan penelitian ulang. Sebab, kekhawatiran Gus Dur tentang cerita sejarah adalah hampir tidak ada yang tertulis atau terdokumentasi dengan baik,  tetapi kebanyakan hanya melalui cerita lisan atau tutur kata.

 

Oleh sebab itu generasi sekarang perlu melakukan pendekatan dan penafsiran sebagai alat sejarah yang diperlukan untuk kehidupan di masa lampau, walaupun Gus Dur mengakui hal itu membutuhkan biaya yang besar. Selain itu, Gus Dur mengajak kita untuk merekonstruksi kesejarahan ke dalam bentuk visual. Tanpa itu kita akan menjadi buta tentang sejarah bangsa sendiri.

 

Dalam pengantar buku ini, Kiai Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menggarisbawahi kepada pembaca supaya tidak tunggal dalam melakukan penafsiran sejarah. Karena dalam sejarah pasti banyak versi. Sejarah masuknya Islam ke tanah Jawa, misalnya. Harus membuktikan asumsi (apriori) dengan bukti-bukti empiris. Melakukan perbandingan dengan fakta sejarah yang lain.

 

Yang ketiga, bahwa sejarah itu tidak hanya dikuasai orang-orang formal bersertifikat atau bergelar, sehingga mengabaikan masyarakat dengan berbagai profesi. Padahal peran mereka juga sangat penting untuk mengenal sejarah bangsa kita di masa lampau.

 

Tulisan dalam buku ini disusun berseri: dalam daftar isi ditulis Membaca Sejarah Lama (1) sampai Membaca Sejarah Lama (25). Tidak seperti tulisan-tulisan lain yang diberi judul berbeda-beda tiap esai. Karenanya dalam kolom-kolom ini (walaupun tidak semuanya) dari satu tulisan ke tulisan berikutnya, ada bagian yang saling terkait. Seperti penyebutan nama tokoh dan nama kerajaan.

 

Contohnya Gus Dur beberapa kali menyebut nama Raden Wijaya dan Kerajaan Majapahit. Antara kisah tentang konflik pribadi dan ambisi kekuasaan. Gus Dur juga mengisahkan bagaimana kerajaan Hindu, Buddha, hingga proses islamisasi di pulau Jawa.

 

Dalam belajar sejarah, Gus Dur mengingatkan kita supaya tidak sekadar menghafal tanggal dan nama, namun perlu memahami sejarah yang bagian dari sebuah proses. Gus Dur mencontohkan dalam menyikapi kondisi sosial bangsa dengan menghubungkan peristiwa masa lampau, seperti sejarah keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat, peran Partai Kebangkitan Bangsa, pertarungan Partai Golkar versus Partai Persatuan Pembangunan, ambisi Majelis Permusyawaratan Rakyat, dan lain sebagainya, yang dihubungkan dengan peristiwa sejarah masa lampau.

 

Seakan-akan Gus Dur ingin menyatakan, bahwa apa yang saat ini sedang terjadi, dulu pernah dialami para pendahulu kita. Peristiwanya sama, namun aktor dan setting lokasinya saja yang berbeda.

 

Banyak hal yang kita dapatkan dalam buku ini. Bahkan Gus Dur menyinggung dirinya sendiri kalau ia memiliki garis keturunan Tionghoa dari marga Tan dan memiliki darah arab (sayyid) dari marga al-Basyaiban. Menarik bukan?