Membaca Sejarah Lama (4)

Sumber Foto: https://www.wartamuslimin.com/gagasan/1382/sultan-agung-antara-ambisi-dan-islamisasi

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid

Sultan Agung Hanyokro Kusumo adalah tokoh sejarah yang sangat menarik. Di satu pihak, ia menggambarkan seorang penguasa yang mempersatukan seluruh bangsa kita di bawah sebuah sistem kekuasaan yang membawakan kesejahteraan bagi para warganya. Sementara di sisi lain, ia menggambarkan seorang penguasa yang dikungkung oleh tradisinya sendiri dan didera oleh sistem yang ditegakkannya. Uraian selanjutnya akan menjelaskan tokoh sejarah yang patut kita kagumi.

Sebagai penguasa Jawa yang menegakkan sistem agraris, dapat dimengerti jika ia kemudian menghancurkan pusat-pusat kelautan (maritim kita), seperti Jepara, Tuban, dan Surabaya. Sistem keningratan yang ditegakkannya menghasilkan para abdi dalem (pejabat keraton) yang hanya mementingkan klas atas yang berkuasa belaka. Aspirasi rakyat dan kekuatan-kekuatan rakyat lainnya, sama sekali tidak mendapatkan perhatian. Karena itu, cerita yang sampai ke tangan kita hanyalah mengenai intrik-intrik keraton belaka.

Cerita tentang Ki Ageng Mangir adalah salah satu di antaranya. Bagaimana ia mengatur agar puteri tertuanya, Ratu Pembayun, kawin dengan tokoh itu dan bagaimana kemudian ia membunuh sang menantu dan menguburkan mayatnya separuh di dalam pekarangan keraton (karena menantu Raja) dan separuh di luar pagar keraton (karena ia adalah pemberontak), merupakan cerita yang mengasikkan. Perlakuannya terhadap Ki Ageng Mangir itu adalah sesuatu yang mengikuti standar keraton Jawa, dan tidak ada hubungannya dengan aspirasi rakyat.

***

Kisah penyerangannya atas Jakarta (saat itu bernama Batavia) adalah pelajaran sejarah yang sangat menarik. Dia menempati kawasan sebelah timur sungai Ciliwung, dengan menduduki wilayah Salemba. Paseban (tempat ia menerima sebo atau orang-orang yang menghadap dan menyembahnya). Didampingi oleh pusat tentara Jawa Mataram (sekarang bernama Matraman) dan tentara Bali Mataram (sekarang Bali Matraman) ditambah lagi dengan kawasan bala tentara panglimanya (Wiragunan, sekarang bernama Ragunan) adalah bukti adanya penyerbuan tersebut.

Namun ia gagal merebut Batavia dari tangan Belanda, yang menggunakan sungai Ancol, sungai Kalimalang dari arah pasar Rumput ke barat dan sungai Cideng hingga ke tepi laut teluk Jakarta sebagai alat pertahanan alami untuk menghadapi raja Jawa tersebut. Sultan Agung tidak dapat menyeberangkan pasukannya melintasi ketiga sungai tersebut, karena pihak Belanda menyediakan pasukan-pasukan yang menggunakan panah api di kebon-kebon seberang sungai, seperti kebon melati, kebon kacang, kebon sayur, dan sebagainya. Itu pun masih ada kebon sirih yang melapisi pertahanan tersebut dengan keluarga-keluarga Belanda tinggal di daerah Gambir (Weltevreden), dengan aman.

Belanda mengorganisir kekuatannya secara efisien, menggunakan sungai Ciliwung dari pasar Baru ke barat dan berbelok ke utara menuju Glodok, yang dipenuhi orang-orang China. Jadi, Gambir sebagai pusat pemerintahan, sedangkan Glodok sebagai pusat perdagangan yang aman dan dapat berfungsi sebagaimana mestinya tanpa gangguan apa pun dari raja Jawa itu. Kecenderungan besar Sultan Agung untuk menumpukan kekuasaan pada sektor agraris, membuat ia buta akan pentingnya kekuatan maritim untuk menyerbu kota tersebut dari laut. Jika hal ini ia lakukan, tentu tidak semudah itu Belanda dapat mempertahankan kota di atas. Dan, sejarah kita sebagai bangsa tentu akan berbeda pula jalannya.

Keterbatasan Sultan Agung sangat tampak di sini. Tapi, kelebihannya dalam menerapkan sistem pemerintahan agraris, juga membuahkan hasil-hasilnya sendiri. Di sinilah terletak jasa-jasa Sultan Agung, di samping dalam penerapan hukum Islam dan penyesuaiannya (Paralelisme) atas kalender Jawa (yang dimulai oleh Prabu Ajisaka di Jawa Timur) terhadap kalender Islam (dimulai dengan bulan Muharam) yang merupakan sebuah warisan budaya yang sangat berharga bagi kita. Dalam hal ini, dapat ditambahkan bahwa keputusannya untuk menerapkan hukum perkawinan, perceraian, dan waris Islam sebagai pelaksanaan terbatas syari’at Islam sebagai sesuatu yang hingga saat ini pun masih dilakukan oleh bangsa kita. Ternyata Islam tidak perlu dilaksanakan secara ideologis, melainkan secara kultural dan, ini adalah jasa terbesar Sultan Agung Hanyokro Kusumo.