Gila NU, NU Gila

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid

Pada suatu malam, setelah jam 01.00 WIB, dokter Fahmi Dja’far Saifuddin menjemput penulis di rumah Jl. Kutilang, Cilandak. Maksudnya, adalah mengajak penulis ke Tanjung Priok, karena ada telepon agar kami berdua saat itu juga pergi ke sana. Penulis nyatakan pada dokter itu, bahwa kalau kita datang sebelum jam 24.00 WIB maka kita dianggap orang gila NU. Dan, kalau di atas jam 24.00 WIB malam maka yang melakukan hal itu adalah NU gila. Dokter kita itu pun tertawa dengan guyonan penulis, tetapi ia terus-menerus membicarakan bagaimana memperbaiki NU. Kerena ia besan penulis, sejak adik penulis -Ir. Sholahuddin Wahid kawin dengan adiknya, maka penulis tidak sampai hati memotong pembicaraannya. Akhirnya, hingga jam 03.00 dini hari, kami berdua baru selesai berbincang-bincang tentang NU, dan jadilah kami berdua orang NU gila.

Fahmi Saifuddin, yang pernah menjadi dekan fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), adalah orang yang selalu mementingkan institusi tempat ia berkiprah. Sebagai contoh saja, ia adalah salah seorang konseptor pengembangan kampus UI di Depok, karena ia lebih dari dua tahun menjadi sekretaris kelompok yang mempersiapkan kampus itu. Demikian juga, ia menjadikan FKM-UI, sebagai institusi ilmiah yang sangat dihargai orang. Gelar MPH (Master of Public Health) yang diperolehnya dari Ann Arbor di Michigan (AS) itu, merupakan bukti capaian ilmiahnya yang tinggi. Tetapi gelar ilmiah itu tidak sampai membuat dia menjadi elitis/teknokratis. Karena ia masih mampu memahami keinginan rakyat yang diperolehnya dari pembicaraan langsung dengan mereka.

Baik dari ayah kandung maupun mertuanya, ia mewarisi kecintaan yang mendalam pada NU, tidak hanya sebagai institusi, melainkan sebagai budaya/kultur kesantrian. Baik institusi maupun kultur itulah yang membuat NU sebagai jalan/cara hidup (way of life, asy-syari’ah). Bahwa hal itu merupakan bagian dari dirinya, tampak jelas dari sikapnya: seorang NU akan dibelanya mati-matian dalam karir maupun hal-hal lain. Cintanya kepada NU, sama dengan kecintaan Cak Nur (Dr. Nurchalis Madjid) pada HMI; anggaplah kalau yang satu memandang NU sebagai agama maka yang kedua memandang HMI juga demikian.

****

Sementara itu, Habib Hamid Sukareja (Purwokerto) hingga usia di atas 60 tahun belum kawin karena ia membaktikan diri secara total kepada ibunya. Orang asketik (wira’i) ini senantiasa tidur di lantai di samping tempat tidur ibunya, untuk menjaga dan menghormati beliau. Baru setelah ibunya meninggal dunia, ia kawin dengan seorang syarifah (di negeri ini, berarti seorang Arab wanita keturunan dari Nabi Saw). Pada masa pra-pernikahannya itu, seperti kebiasaannya untuk tidak mau melalui jalan beraspal, melainkan jalan berumput di pinggiran tanpa menggunakan alas kaki.

Bahkan, keanehan-keanehan itu tidak terhenti setelah ia kawin, seperti banyak diceritakan orang. Ia tetap pada kebiasaan hanya berkomunikasi bebas dengan isterinya, serta salah seorang pembantunya, Hasan atau Kiai Abdul Ghani. Yang disampaikannya hanyalah kiasan-kiasan belaka, atau ayat-ayat al-Qur’an. Jelas dari penyampaian itu, bahwa hal-hal atau ayat-ayat yang disampaikannya itu datang dari “sana”. Tampak jelas, ia hanya bertindak sebagai medium belaka. Pada waktu mengunjungi penulis di Istana Merdeka, ia tidak mau masuk ke dalam dan hanya mau duduk di atas kursi yang dibawa ke luar pintu istana. Dari sikap itu, penulis yakin ia melihat sesuatu di dalam istana, yang tidak tampak oleh penulis. Apakah arti sikap tersebut, bagi penulis tidaklah penting, tidak merupakan sesuatu yang harus diyakini.

Ada dua buah ayat al-Qur’an yang disampaikan oleh pembantunya, Hasan, kepada penulis. Yang pertama, ayat al-Qur’an yang menunjukkan keberanian Nabi Musa untuk menempuh jalan kering menyebrangi laut merah yang dipukulnya dengan tongkat, tanpa mempedulikan mereka yang mengejar. Mereka itu kemudian menyebrangi jalan yang sama yang bertaut kembali setelah Nabi Musa sampai di seberang, dan dengan demikian air laut yang bertaut itu mengubur Fir’aun/Pharaoh dalam perjalanan itu. Ini adalah contoh keberanian yang penulis simpulkan dari perintah Habib Hamid tersebut. Ayat kedua dari beliau adalah pernyataan orang banyak agar tidak mendengar atau percaya fitnahan-fitnahan dan dusta yang dibuat berbagai pihak untuk mendiskreditkan penulis.

Dalam kedua jenis kegilaan masing-masing, baik Dr Fahmi Saifuddin atau Habib Hamid Sukaraja, telah memperlihatkan kesamaan dasar dalam bersikap. Kesamaan dasar itu, agar NU dikembangkan tidak secara rasional belaka, melainkan juga melalui cara-cara aneh atau melalui kekerasan kepala masing-masing. Hal itu ditimbulkan oleh kecintaan yang besar pada NU, sebagai manifestasi kecintaan mereka  yang mendalam pada organisasi tersebut.

Nah, di sinilah terletak dilema sangat besar yang dihadapi NU saat ini. Bahwa dalam lingkungan NU tak pernah ada kesepakatan formal, kecuali kalau dirumuskan dalam bentuk rumusan hukum yang dapat diterima secara luas. Ini terjadi karena memang NU merasa aman, tetapi idiosinkrasi (keanehan-keanehan) seperti ini, menunjukkan besarnya variasi perbedaan sikap di lingkungan NU, di antara sesama kiai. Ini menunjukkan potensi pluralisme dan variasi pendapat sangatlah besar yang terdapat di lingkungan organisasi Islam terbesar ini.

Kedua contoh yang digambarkan di atas, menunjukkan elemen-elemen yang membedakan berbagai pandangan tersebut. Untuk mengaturnya, diperlukan etika yang sering dinamai akhlak sunni itu. Bagaimanapun kita menyatakan pendapat, di dalam lingkungan NU selalu ada tempat bagi pluralitas pandangan. KH A. Wahab Chasbullah selaku Ra’is ‘Am PBNU berpendapat DPR-GR bentukan Bung Karno harus diisi wakil-wakil NU, karena kalau tidak umat Islam akan kehilangan momentum bagi pembentukan pendapat pemerintah, dan sebagai akibatnya tidak akan berpartisipasi dalam proses politik. Wakilnya, KH M. Bisri Sansuri (yang juga adalah ipar beliau), berpendapat hukum Islam (fiqh) formal, yaitu DPR hasil pemilu 1955 hanyalah dapat diganti oleh hasil pemilu pula, bukan oleh DPR-GR-nya Bung Karno.

Kedua pandangan yang bertentangan itu secara terbuka diperdebatkan di lingkungan NU dan memperkaya khazanah pemikiran keagamaan dalam organisasi Islam terbesar Indonesia ini. Dokter Fahmi Saifuddin dan Habib Sukaraja yang notabene masih bersaudara, adalah contoh dari kedua pandangan yang berbeda tersebut. Yang satu rasional, yang lain spiritual. Kedua-duanya telah meninggal dunia minggu lalu dan kita merasa kehilangan besar akibat kepergian mereka.