Seribu Jilid Makna Jejak Ibu (Kenangan Untuk Ibu)

Sumber Foto: https://www.khazanahpopuler.com/

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid

“Pak kenapa turun?”

“Habis bagaimana yang menyuruh kan kiai, masak saya nggak mau turun”

“Bapak kalau turun maka Pemerintah akan turut campur”

Itulah percakapan saya bersama Fahmi D. Saifuddin dengan Pak Idham Chalid menjelang muktamar NU di Situbondo, Jawa Timur tahun 1984. Sebelum muktamar, Pak Idham Chalid turun dari kursi kepemimpinan PBNU. Perkiraan saya benar, Bakin (Badan Koordinasi Intelejen Negara) yang “turun”. Ketika itu langsung saja saya kemukakan kepada Pak Idham bahwa dari pada NU ini jatuh ke tangan die hard atau tangan orang yang tidak jelas bagaimana kalau saya saja yang mencoba mengakurkan berbagai kelompok ulama yang sedang berfaksi itu dengan menggunakan Cholid Mawardi (tokoh NU) dari pihak Pak Idham.

Pak Idham kontan saja menjawab, “Oh, ya bagus” (KH. Abdurrahman Wahid kemudian terpilih menjadi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU dalam forum muktamar itu, ed). Jadi, kami berhubungan terus. Kamudian selama dua tahun pasca muktamar saya bersama Cholid Mawardi dan teman-teman lain mengurusi NU. Langkah saya ini tidak sampai menimbulkan rasa sakit yang membekas di kalangan NU.

“Ayam Induk” bagi NU

Saya ingin membuat NU lepas dari ideology sebagai partai politik. Dan Ibu setuju dengan ‘depolitisasi’ NU walaupun beliau seorang tokoh politik di NU. Ini berbeda dengan kondisi NU sebelumnya di mana menjadi bagian dari PPP sehingga harus melakukan politik praktis. Karena itu menjelang kampanye PPP pada pemilu 1977, saya ditanya Ibu, “Kamu nanti kalau diminta untuk kampanye PPP bagaimana?” Saya waktu itu, “ya tidak apa-apa”. Saat itu Ibu salah satu politisi PPP dari unsur NU. Jawaban saya itu berdasar sikap bahwa NU bagi saya telah meletakkan segala tumpuan politiknya kepada PPP (saat itu belum ada putusan khittah NU 1926 yang baru keluar tahun 1984, ed). Lalu beliau menanggapi saya, “Bagus-bagus”.

Ibu tidak pernah menghalangi tapi, juga tidak pasrah sikapnya.

Ibu saya itu tidak pernah memaksakan seorang anak harus begini-bagitu dan mempermasalahkan suara-suara tertentu NU tentang saya. Cuma, kalau beliau tanya pasti minta garis-garis besarnya saja sudah cukup. Karena itu selama saya mempimpin NU tiga periode (1985 – 2000). Ibu tidak pernah terlalu rinci ikut campur dalam urusan NU. Beliau Cuma memberikan pandangan umum secara garis besar saja. Hanya ada beberapa teguran teknis dari ibu saya mengenai kepemimpinan saya di NU. Ibu juga melihat adanya berbagai faksi di NU dahulu ya… cuek saja, baik itu kubu Matraman, kubu Cipete, maupun kubu Situbondo. Jadi, kalau kiai itu perlu dibela ya pasti ada saja yang membela. Gitu saja. Jadi, ibu saya itu sebenarnya lebih mencari common denominator di NU. Jadi, sosok ibu itu seperti yang diceritakan dalam buku-buku sebagai “induk ayam” bagi pimpinan NU. Soalnya beliau itu mempunyai ayah Kiai Bisri Syansuri, orang yang kokoh dalam memegang prinsip sehingga ibu saya ditantang untuk menyerasikan antara prinsip dengan keadaan.

Misalnya, pada tahun 1978 pada saat siding DPP PPP, Mbah Bisri ikut rapat di rumahnya Pak Sifuddin Zuhri, di situ ada Ibu saya juga. Lalu Mbah Bisri bilang bahwa presiden itu memiliki lima syarat sementara Pak Harto itu harus diperiksa memenuhi persyaratan atau tidak? Akhirnya ditunjuk tiga orang yaitu Pak Masjkur, Pak Rusli Abdul Wahid, Pak Mintardja untuk berangkat ke Pak Harto.

Orang-orang yang disuruh memeriksa Pak Harto itu sebelum pergi ke Cendana mampir dulu ke Pak Idham Cholid. Sepulang dari Cendana orang-orang tadi ditanya wartawan ditengah jalan, “Ada apa kiai?” Lalu diantara tiga orang tadi menjawab, “Menanyakan kesediaan Pak Harto menjadi calon Presiden”. Ini kan pengkhianatan kepada petugas. Lalu Mbah Bisri ditanyai sama teman-temannya, “Bagaimana Kiai?” Mbah Bisri hanya menjawab, “Lho tugas saya kan Cuma merumuskan hokum, karena yang bertugas untuk itu ada”. Orang seperti ini kan tegas amat.

Saya ambil contoh masalah DPR-GR yang dibentuk Presiden Soekarno. Mbah Kiai Bisri (ayahnya ibu) itu tidak setuju dengan adanya DPR-GR. Karena menurutnya DPR yang dibubarkan oleh Bung Karno itu seharusnya dipilih lagi oleh rakyat, bukan dibentuk sepihak oleh presiden. Lalu kiai Wahab Chasbullah sebagai saudara ipar beliau memiliki pendirian lain yaitu kalau Bung Karno menunjuk terus bisa-bisa diparlemen itu diisi dari kalangan PKI semuanya, lalu bagaimana bisa memperjuangkan aspirasi NU dan aspirasi lainnya.

Dalam hal ini ibu cukup kecewa terhadap DPR-GR, tapi ibu orangnya lebih mementingkan kegunaan dari pada bakunya pandangan tentang kontroversi DPR-GR. Setelah itu ibu sering bertemu dengan kiai-kiai NU dan para pimpinan NU yang sering juga pertemuaannya diadakan di Matraman.

Dari Nasional hingga Lokal

Ibu sering mempertemukan antara ulama dengan para pejabat supaya ada kesinambungan berfikir dalam membangun bangsa. Misalnya, Pak Alamsyah Prawiranegara (Mantan Menteri Agama) waktu menjadi menteri jadi kenal dengan banyak ulama-ulama NU melalui ibu saya. Sisi lain dari kiprah politik Ibu ia bisa ketemu juga dengan berbagai macam kelompok-kelompok seperti para professional dan lainnya. Misalnya, teman-temannya Umar (dari kalangan profesi kedokteran, ed) datang ke rumah kemudian ngobrol dengan ibu maupun dengan teman anak-anaknya yang lain.

Ibu juga tidak pernah kehilangan kontak-kontak dengan orang-orang penting dalam unsur-unsur masyarakat. Umpamanya dengan ulama dan tidak hanya yang level-nya nasional, tapi juga ulama-ulama local. Seumur hidup beliau itu kalau ada acara di As-Syafi’iyyah /At-Thohoriyyah di Jakarta mesti datang.

Begitu juga dengan orang-orang NU setempat di Betawi seperti dengan Rois Suriyah NU DKI, Kiai Siddiq dan tokoh yang lain. Jadi, pergaulan beliau itu bisa diandaikan “melintas-batas” antara wanita maupun pria”. Tapi, semua itu dilakukan tanpa adanya goncangan atau pertentangan karena hal itu dilakukan tidak untuk diri sendiri tapi sebagai pengabdian semata.

Salah satu yang masih saya ingat adalah ketika saya menemui beliau bertamu ke sebuah rumah di Jalan Imam Bonjol, Menteng dan Ibu berdiskusi panjang lebar dengan seorang laki-laki. Ketika Tan Malaka, tokoh misterius dikabarkan meninggal, Ibu berkata kepada saya, “Kamu masih ingat ndak orang yang kita temui di Jalan Imam Bonjol, namanya Husein, padahal orang itu sebenarnya adalah Tan Malaka”. Ternyata, Tan Malaka juga menjadi teman bertukar pikiran Ibu.

Pimpinan Dapur Umum

Sebagai anak tertua di keluarga, Ibu tidak mempunyai pesan-pesan khusus untuk saya. Beliau itu orangnya fair sekali, dalam arti pandangan-pandangan atau usulan apapun beliau itu selalu ditawarkan kepada anak-anaknya bahkan kami lebih bebas untuk menentukan sendiri. dalam soal pendidikan anak-ankanya, Ibu menyerahkan kepada pilihan masing-masing anak. Sehingga waktu saya sekolah di luar negeri tidak ada masalah karena itu kan keinginan saya sendiri. Tapi, beliau sempat bilang sama saya waktu itu, “Kalau kamu ingin memilih ke pesantren jangan bicara sama saya, tapi uruslah semuanya ke Mbah Bisri di Jombang”. Jadi Ibu itu istilahnya Cuma memfasilitasi saja.

Pendidikan bagi Ibu tidak terpaku pada sekolah saja. Tapi pendidikan itu termasuk pengajian-pengajian dan lain-lain. Jadi beliau sudah percaya pada anak-anaknya kalau adik sama Umar di kedokteran maka pendidikan agama akan ditambal sendiri. Begitu juga saya yang di pesantren maka beliau tahu kalau pendidikan umumnya juga akan saya tambal sendiri. Karena itu beliau tidak banyak mengarahkan terlalu rinci.

Beliau itu berusaha memberikan pendidikan dengan cara memberikan contoh yang baik. Jadi saya ke pesantren dan ke luar negeri itu bukanlah keingginan Ibu terhadap saya. Saya itu tertariknya karena setelah mengaji kitab fiqh di situ diulas mengenai orang-orang yang dikehendaki kebaikan oleh Tuhan. Lalu saya kepingin tahu ada apa sih fiqh kok begitu.

Waktu di Jombang, Jawa Timur, Ibu saya dulu aktif digerakan-gerakan gerilya. Ibu menjadi salah satu pemimpin dapur umum dan keponakannya ada yang menjadi kapten, letkol, dan lainnya. Jadi beliau waktu itu mengikuti terus gerilya jadi tahu semualah perkembangan keadaan. Yang saya dengar ketika awal Ibu menikah dengan Ayah, setahun kemudian mempunyai anak saya.

Kalau Ibu saya ngajar, saya menyusu dengan Bude (Kakaknya ibu bernama Bude Asomah, neneknya Muhaimin Iskandar, Wakil Katua DPR, ed) tapi, kalau Bude yang mengajar, anak-anaknya (orang tuanya Muhaimin dan orang tua Syaifullah Yusuf, Ketua Umum PP GP Ansor, ed) itu menyusu ke Ibu. Itu namanya saudara sesusu.

Ketika keduanya sudah besar, saya bilang ke Muhaimin dan Syaifullah Yusuf, “Kita saudara sesusu tapi, jangan pernah kalian pakai nama saya untuk bergerak, kalau mau bergerak, ya gerak saja sendiri.” Saya selalu menekankan pada mereka kalau kalian mau besar janganlah menjadi bayang-bayang orang. Jadi kalau menjadi bayang-bayang saya, ya paling banter kalian menjadi staf saya.

Ayah saya meninggal katika saya masih berumur 13 tahun. Pengalaman besar Ayah sedikit karena usia 14 tahun saya sudah “lepas” tidak lagi hidup sehari-hari dengan orang tua karena saya sekolah dan mondok. Bahkan waktu ada ramai-ramai dengan PKI di Indonesia, saya tengah ada di Mesir. Jadi, durasi masa muda saya berkumpul dengan orang tua itu sangat sedikit.

Musibah yang Sudah Diperkirakan

Yang paling ingin saya kenang terus dengan Ayah saya adalah ketika saya diajak pergi ke Sukanegara, Sukabumi, Jawa Barat. Disana kami menemui Ajengan Musa, seorang ulama yang disegani. Setelah salaman semua, Ajengan Musa bilang sama Ayah saya dalam Bahasa Sunda, “Kamu siap-siap saja nanti, karena kamu akan mendapat musibah di tengah hujan deras”.

Lalu dua bulan berikutnya ayah saya kecelakaan mobil di tengah hujan deras dan meninggal tepat seperti apa yang dibilang oleh orang itu. Hanya saja waktu kecelakaan itu saya betul-betul lupa. Cuma yang saya tahu waktu itu beliau pergi dengan membawa duit sebanyak Rp. 500.000,- (kalau di kurs sekarang kira-kira senilai setengah Milyar Rupiah) untuk bantuan mendirikan sekolah di Sumedang. Itu yang saya selamatkan.

Nah kalau dengan Ibu hubungan kita ini rasional jadi biasa-biasa saja. Tapi, yang lengket terus dengan saya beliau itu begitu menghormati orang tanpa pandang bulu. Di Indonesia ini kalau ulamanya itu ditengarai jika mereka orang nasional tetapi tidak punya akar yang kuat di daerah. Tapi, sebaliknya sekalipun mereka ulama di daerah tapi mereka tidak punya akses kuat di level nasional.

Nah, Ibu saya kuat akarnya di dua level ini. Kalau di daerah temannya banyak, begitu juga di Jakarta. Kalau sudah ke daerah-daerah itu kiai semua didatangi. Dan beliau itu melakukannya dengan tulus. Jadi, itulah yang paling mengesankan bagi saya. Disamping itu beliau juga tidak pernah membeda-bedakan orang lokal atau nasional.

Yang paling saya hargai dari ibu itu adalah pertama, beliau cukup memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk memilih apa saja. Kedua, beliau menanamkan betul pada anak-anaknya tentang keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab. Maksudnya, tiap orang itu berbuat sesuatu ya tanggung jawabnya ada.

Ibu tidak punya keinginan menolak lagi setelah meninggalnya Ayah. Cerita perkawinan mereka itu juga unik. Dulu Ayah saya pernah disuruh kawin dengan orang lain dari kalangan pesantren di tempatnya Mbah Bisri. Nah, yang melihat kesana itu kakek saya. Ketika Ayah saya “dikawal” santri putri termasuk Ibu saya, lalu entah kenapa kakek saya mintanya Ibu saya itu untuk dijodohkan dengan ayah saya; bukan dengan orang yang dimaksud semula.

Mungkin karena melihat kepribadian Ibu. Gadis yang mau dijodohkan dengan dengan Ayah saya itu sangat cantik dan anaknya orang kaya. Jadi mungkin anggapannya tidak bisa diajak berjuang, kali. Tahu-tahu Iha kok ibu saya yang dipilih.

Bicara Seribu Jilid

Kalau saya memahami, Ibu memahami betul bahwa dalam proses modernisasi mau tidak mau orang-orang Islam itu harus menguasai skill-nya orang lain. Dan dalam ini termasuk dalam bidang pendidikan. Karena itu anaknya terserah mau mengambil jurusan pendidikan apa saja asal bertanggung jawab dalam setiap pilihan dan pekerjaannya.

Ibu tidak punya banyak acara, baik di pemerintahan maupun di NU dan di organisasi-organisasi lainnya. Tapi, meskipun jarang bertemu, kualitas pertemuan diantara kita tetap dijaga. Misalnya yang saya ambil dari beliau itu penumbuhan terhadap rasa bertanggung jawab. Jadi, menurut saya tidak penting adanya pembagian jam pertemuan orang tua kepada anaknya. Tapi, yang penting anak itu merasa bahwa orang tua itu memikirkan kebutuhannya.

Jadi, dalam kesulitan apapun anak boleh datang ke orang tuanya. Anak saya juga jarang ketemu dengan saya tapi, saya urusi betul apapun kesulitan dari keempat anak saya ini. Tidak ada anak-anak ibu yang sampai “lepas”. Itu tidak ada. Sepulang dari Mesir saya sudah tidak tinggal di Matraman lagi, tapi pindah-pindah lalu ke Ciganjur yang sekarang ini.

Ibu saya itu tidak pernah bicara tapi bertindak. Beliau bisa berperan dalam banyak kegiatan serta mendirikan dan aktif di berbagai yayasan sosial termasuk Yayasan Bunga Kamboja (YBK). Aktivitasnya itu telah berbicara dengan makna yang demikian dalam, sama saja bicara kepada saya seribu jilid. Beliau lebih suka program yang “kecil-kecil” dari pada yang muluk-muluk.