Natal dan Pesannya

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid

Banyak pesan pada Hari Raya Natal, mulai dari pesan perdamaian, turut merasakan penderitaan kaum miskin dan pesan perikemanusiaan, tetapi tahun 2003 lalu justru banyak pesan anti-terorisme. Ini dapat dimengerti karena tahun sebelumnya, memang banyak terjadi tindak kekerasan berwujud terorisme terutama di negeri-negeri Barat yang sudah terbiasa dengan keteraturan dan kejelasan posisi masing-masing kelompok.

Namun hal itu dikacaukan dengan ambruknya World Trade Center di New York karena serangan para teroris yang mengakibatkan ribuan nyawa melayang. Siapa pun yang menyebabkan apa pun yang menjadi motif dan bagaimanapun anatomi terorisme itu, ia menggetarkan seluruh sendi-sendi kehidupan di AS.

Dengan segera Presiden AS, George W. Bush menuding Osama bin Laden dengan Al-Qaeda-nya. Patut dicatat sampai hari ini belum ada tuduhan resmi apa pun diarahkan kepada bin Laden melalui pengadilan negeri mana pun, padahal sudah dua tahun kejadian itu berlangsung. Kalau hal itu hanya berdiri sendiri saja tidak akan timbul pertanyaan, tetapi diikuti dengan penyerangan atas Afghanistan.

Orang mempertanyakan motif atas penyerangan ke Afghanistan; apakah hanya karena terkait terorisme WTC saja atau karena di sebelah utara negara itu -negara-negara Asia Tengah-, memiliki cadangan BBM sangat besar? Begitu juga serangan kepada Irak dengan dalih pencarian senjata pembunuh masal dan keinginan mendirikan negara demokratis  yang kuat di negeri Abu Nawas itu, apakah tidak ‘dicampuri’ oleh motif lain?

Pengumuman terakhir sebelum Natal, yaitu larangan AS kepada negara-negara yang tidak ikut menyerbu Irak dari tender rekonstruksi negara tersebut setelah perang. Dengan fakta ini, apakah memang motif perang tersebut tidak berkaitan dengan BBM sebagai sumber minyak kedua setelah Saudi Arabia? Ini semua mau tidak mau menimbulkan sederetan pertanyaan mengenai motif penyerbuan ke Afghanistan dan Irak itu? Hubungan internasional antarnegara-negara, sekarang ini memang penuh dengan pertimbangan-pertimbangan internal, yang sering sekali mengambil kesimpulan tanpa didukung oleh data-data yang benar.

Kalau dengan mengeluakan pertanyaan-pertanyaan begini saja penulis sudah dianggap menentang AS, maka penulis berpendapat kalau penulis tidak berani bertanya berarti itu adalah penghinaan kepada kemampuan berpikir penulis. Penulis tidak anti siapa-siapa dan penulis tidak mendukung siapa pun. Ia berani menghadapi konsekuensi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan itu.

Sepertinya kita ini kembali ke jaman Yunani kuno, ketika Socrates harus minum racun yang kemudian langsung membunuhnya, karena terlalu banyak bertanya. Hal ini sangat menyedihkan, mengingat sudah begitu jauh kemerdekaan berpikir telah kita capai melalui berbagai macam tahap kehidupan manusia.

Kalau meminjam istilah Prof. Jan Romein dalam salah satu bukunya, semenjak filsafat Yunani kuno, manusia telah memasuki tahap-tahap berikut: pengorganisasian Gereja, Renaisance (pencerahan), rasionalisme, abad industrialisasi, abad deideologi, dan terakhir abad XX yang penuh ketidakpastian itu. Nah kalau kita sudah menempuh tahap-tahap tersebut, dan kini kembali abad ‘intel’ yang main raba-raba saja dan menggunakan argumentasi setengah matang tentu sangat menyedihkan?

*****

Karena itulah penulis dengan gembira menerima undangan International Inter-religious Federation for World Peace (IIFWP) di Jerusalem. Penulis baru-baru ini turut serta dalam sebuah konfrensi untuk mempersiapkan demonstrasi (peace rally) besar-besaran di kota itu. Ini untuk menunjukkan keprihatinan kepada dunia, bahwa seluruh agamawan – sekitar 30.000 ribu orang yang mewakili rekan-rekan mereka – menekankan bahwa sengketa itu seharusnya diselesaikan dengan negosiasi langsung bukan dengan tidak kekerasan. Penulis sendiri berbicara dalam sidang pembukaan, selama hampir seperempat jam.

Dalam pidato itu, penulis kemukakan bahwa sengketa tersebut mempunyai sejarah sangat panjang. Dimulai dari pertentangan antarsuku (dalam hal ini Israel dan Palestina), akhirnya menunjukkan sebuah kenyataan yang tidak dapat dibantah lagi melibatkan komunitas internasional.

Penyelesaiannya tidak hanya dapat diatasi oleh pertimbangan-pertimbangan geopolitis belaka, melainkan juga diperlukan sebuah acuan spiritualitas (semangat agama) di belakang upaya-upaya penyelesaian konflik itu. Dengan kata lain, sengketa kedua bangsa itu tidak dapat dibatasi pada sebuah pendekatan belaka, melainkan harus dengan berbagai sudut pandang.

Kalau dahulu hanya dari sisi diplomasi, -yang seringkali “diwarnai” oleh pertimbangan-pertimbangan militer dan politis-, maka sekarang tiba waktunya untuk juga menggunakan pertimbangan-pertimbangan lain yang bersifat spiritual yaitu moral, rasa keadilan, gugatan hati nurani melihat penderitaan rakyat yang terlibat konflik, pengungsi dan sebagainya. Hal inilah yang ingin dicapai oleh konferensi tersebut, yaitu agar spiritualitas dapat dimanfaatkan dalam penyelesaian sengketa yang sudah berjalan lebih dari setengah abad.

Semula, Israel sudah sejajar dengan negara-negara Arab di sekitarnya. Karena bantuan Amerika Serikat dan negara-negara lain. Kemudian, Israel memiliki kelebihan-kelebihan militer yang tidak memungkinkan negara-negara Arab mana pun untuk menyerangnya. Tetapi negara berlambang Bintang David itu justru dibuat “seolah-olah” tidak berdaya menghadapi serangan-serangan “bom bunuh diri” (suicidal bombing), yang dilakukan oleh para pejuang Palestina yang hampir seluruhnya dari generasi muda.

Israel menjadi terguncang, tetapi mereka bukannya mencari sebab-sebabnya secara jelas, pemerintah Israel justru semakin bertambah keras sikapnya, antara lain dengan menduduki kawasan tepian barat sungai Jordan dan menahan Yasser Arafat, pemimpin bangsa Palestina yang secara resmi menjadi Ketua Al-Fatah, organisasi terbesar bangsa Palestina.

*****

Jelas dari uraian di atas, bahwa pesan perdamaian yang dibawakan oleh berbagai kalangan Kristiani guna menyambut datangnya hari Natal dan Tahun Baru 2004, harus diberi makna lain dari biasanya. Apabila arti baru dari pesan Natal itu ”belum masuk” di hati dan pikiran para pemimpin Kristiani, baik pimpinan formal maupun non-formal, dari bangsa-bangsa yang mayoritas Kristiani, itu adalah akibat belaka dari sikap yang meluas di masa lampau.

Bahwa sisi spiritual dari kehidupan mereka bertentangan dengan sisi non-rohani (non-spiritual) dari kehidupan manusia. Kita menginginkan kedua aspek itu bekerjasama, sebagai bagian dari tujuan perjuangan semesta yang sangat luas, yang bernama perdamaian. Karenanya pesan perdamaian yang hanya menekankan salah satu sisi saja, adalah pesan yang tidak lengkap.

Jadi kemudian kita lalu tahu, upaya politik militer belaka dengan menggunakan diplomasi sebagai cara berdemokrasi, tanpa melakukan koordinasi dan sisi spiritualis -dalam hal ini keagamaan-, hanya akan menemui jalan buntu. Nah, salah satu persyaratan bagi penyelesaian secara damai dari sengketa apa pun, adalah terwujudnya rasa saling mempercayai antara kedua belah pihak terutama antara para pemimpinnya.

Dari sini muncul sebuah pertanyaan: adakah Ariel Sharon dan Yasser Arafat sama-sama memiliki hal itu? Rasa-rasanya tidak demikian. Karena itu para pemimpin lain dari kedua belah pihak, haruslah mendorong mereka dapat memiliki rasa saling mempercayai.

Ini adalah pendapat yang penulis utarakan kepadanya sewaktu sama-sama menjadi panelis dalam sebuah diskusi yang diadakan Pusat Dialog Strategis (Strategic Dialog Center) bulan Juni tahun lalu.

Akhirnya kebutuhan akan sikap saling mempercayai antara Arafat dan Sharon itu disampaikan oleh Gorbachev dalam pertemuan antara Sharon di satu pihak dengan Gorbachev, de Clerk (Afrika Selatan) dan penulis di pihak lain. Jelas bahwa perdamaian di Timur Tengah mudah dikatakan namun sulit dilaksanakan, bukan?