Tulisan

Pancasila dan Liberalisme

Dalam beberapa tahun terakhir ini, semakin sering dikemukakan oleh para pejabat teras negara kita bahwa Pancasila menolak demokrasi liberal. Pernyataan tidak hanya dikeluarkan secara perorangan oleh para pejabat tinggi pemerintahan, termasuk oleh Kepala Negara, melainkan dirumuskan secara formal dalam materi penataran P4. Dengan demikian, tidak dapat diragukan lagi bahwa penolakan atas demokrasi liberal itu sudah …

Pancasila dan Liberalisme Read More »

Teater dan Politik di Indonesia

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid Pada waktu saya mendapat surat dari Teater Populer untuk ikut serta dalam seminar ini, sebenarnya saya sudah ragu-ragu, karena saya hampir tidak mengerti apa-apa tentang teater, apalagi teater di Indonesia. Untuk setiap kali menonton saja sudah tidak mungkin karena sibuk dengan teater kiai, bukan teater politik di desa-desa atau di daerah-daerah, …

Teater dan Politik di Indonesia Read More »

Agama, Ideologi, dan Pembangunan

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid Agama, ideologi, dan revolusi merupakan unsur-unsur yang ternyata tidak dapat diingkari potensinya untuk mensukseskan atau sebaliknya, merusak, bagi sebuah upaya membangun masyarakat. Hal itu juga berlaku bagi Islam, agama langit (din samawi) terakhir yang diturunkan oleh Tuhan ke bumi, sebagaimana terbukti dalam sejarahnya yang sudah berlangsung empat belas abad. Mengingkari hal …

Agama, Ideologi, dan Pembangunan Read More »

Cinta Konseptual dan Cinta Kongkret

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid Minggu lalu, kembali penulis memutar compact disc (CD) di mobilnya dan mendengarkan lagu-lagu hard rock yang diciptakan Dhani Dewa. Penulis memutar lagu-lagu tersebut untuk mencari tahu apa sebabnya pihak-pihak ‘Islam garis keras’ marah kepadanya dan berniat menyeretnya ke pengadilan? Atau minimal untuk ‘menakuti’ anak-anak muda yang hendak membeli kaset atau CD …

Cinta Konseptual dan Cinta Kongkret Read More »

Sebuah Perspektif Nasi Tumpeng

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid Seorang ibu dari Semarang punya kasus yang lucu. Setiap tahun ia mendapat undangan ke Istana Merdeka. Mungkin sebagai pahlawan (yang masih hidup) atau keluarganya, mungkin juga karena sebab lain. Nah, pada tahun 1981, ia membungkus nasi tumpeng buatan Istana, dan menyimpannya di rumah – hingga hari ini. Para tentangga tertawa melihat ia …

Sebuah Perspektif Nasi Tumpeng Read More »

Sapa Suru Datang Jakarta

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid Judul di atas diambil dari sebuah judul nyanyian yang sangat terkenal, menceritakan seorang perantau daerah yang mengalami nasib sial, dan hidup tidak beruntung di ibu kota negeri ini. Seolah-olah orang itu, “cari penyakit” dengan merantau ke ibu kota, dengan meninggalkan daerah kelahiran. Artinya, tinggal di ibu kota tidak lebih baik daripada …

Sapa Suru Datang Jakarta Read More »

Gila NU, NU Gila

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid Pada suatu malam, setelah jam 01.00 WIB, dokter Fahmi Dja’far Saifuddin menjemput penulis di rumah Jl. Kutilang, Cilandak. Maksudnya, adalah mengajak penulis ke Tanjung Priok, karena ada telepon agar kami berdua saat itu juga pergi ke sana. Penulis nyatakan pada dokter itu, bahwa kalau kita datang sebelum jam 24.00 WIB maka …

Gila NU, NU Gila Read More »

Pertemuan Tak Terduga di Bali

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid Pukul 05.00 WITA, di ruang tamu Ashram Ghandi milik Ibu Gedong Bagus Oka di bilangan Sanglah, Denpasar. Ketika itu, penulis sedang menunggu keberangkatan ke lapangan terbang Ngurah Rai –sambil minum teh, bertemu dengan putra kedua beliau, yaitu Krisna Bagus Oka. Sebelumnya, dalam sebuah pertemuan di Candi Desa, Krisna telah mengajukan gugatan. …

Pertemuan Tak Terduga di Bali Read More »

Romo, Kiai, dan Serdadu

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid Haji Johanes Cornelis Princen (HJC Princen) panggilan akrabnya sehari-hari Poncke, sudah lama menggunakan kursi roda dan mengurangi kegiatannya hingga titik minimal. Namun, kita terbiasa dengan kehadiran Poncke dalam kehidupan kita. Perjuangan Hak Asasi Manusia (HAM) di negeri ini, terasa tidak lengkap tanpa kiprahnya. Bahwa bangsa kita tidak mampu memberikan penghargaan lebih dari …

Romo, Kiai, dan Serdadu Read More »