Bepergian Dengan Seorang Master

Sumber foto: https://twitter.com/GUSDURians/status/1552273617958076416

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid

YANG penulis bicarakan di sini adalah bepergian ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dari pertengahan hingga minggu ketiga Desember 2004. Sedangkan master yang mengikuti adalah Master Chin Kung seorang rohaniawan Budha yang sangat terkenal dengan ceramah-ceramah dan tulisan-tulisannya. Master Chin Kung lahir di provinsi Anhui, sebuah kawasan di Tiongkok Tengah, yang juga adalah provinsi kelahiran Presiden RRT sekarang, Hu Jintao. Master Chin Kung pernah tinggal beberapa tahun lamanya di Amerika Serikat, sebelum lima tahun yang lalu ia menetap di Brisbane kawasan sebelah utara Australia.

Kunjungan bersama itu bermula dari perkenalan penulis dengan sang master itu beberapa tahun yang lampau. Dalam kesempatan tersebut penulis pernah menyatakan kepadanya bahwa penulis sedang menunggu jawaban dari RRT atas surat yang dikirimkan ke negeri itu dan menanyakan benarkah Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengundangnya ke sana? Pada suatu ketika, ia menyatakan hal yang sama kepada bante/bikhu yang memimpin vihara di Jalan Lodan, Ancol.

Tiba-tiba penulis memperoleh telepon dari Joko Susilo dari Multi Culture Society. Tadinya penulis mengira Joko Susilo itu adalah murid atau pengikut Master Ching Kung. Penulis baru menyadari kemungkinan salah dalam hal ini ketika berada di RRT. Ternyata Master Ching Kung juga seperti diri penulis, yaitu orang yang dianggap para pejabat RRT sebagai tamu, menjadi anggota delegasi antar-agama Indonesia yang mengunjungi negeri-negeri untuk dialog antar-agama. Di samping penulis yang menjadi ketua delegasi, ada Master Ching Kung, KH. Drs. M. Tolchah Hasan, Dr. Sulastomo, Romo Beni Susetyo dari KWI, pendeta Richard Daulay dari PGI, Tjahjadi Nugroho dari Asosiasi Pendeta, Kusuma dari agama Tao di Jakarta dan beberapa pejabat departemen agama.

Ketika berada di RRT itu, penulis berkunjung ke pusat-pusat berbagai agama, ke Biro Penyelenggaraan Agama Nasional, Majelis Permusyawaratan Politik Nasional dan sebagainya. Tidak lupa, penulis dan rombongan juga mengunjungi Tembok Besar (Great Wall), sekitar satu jam dengan kendaraan mobil dari kota Beijing. Beberapa buah artikel, termasuk tulisan ini, penulis masukkan dalam harian di Jakarta untuk diterbitkan. Di samping Beijing, penulis dan rombongan juga pergi ke kota Peng Lai di Provinsi Shantung (Shandong), dengan lebih dahulu naik pesawat terbang satu jam, kemudian naik mobil juga selama satu jam dalam hawa sangat dingin, sehingga Walikota Peng Lai menggigil kedinginan. Ketika pidato di lapangan penulis harus memberikan sambutan dan kemudian memukul Gong Perdamaian. Setelah itu penulis menuju kota Yantai di provinsi yang sama. Di sana, Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat daerah Shantung dengan dipimpin wakil ketuanya mengadakan jamuan makan siang di sebuah hotel untuk delegasi Indonesia. Dari tempat itu, penulis kembali ke lapangan terbang untuk ‘kembali pulang’ ke Beijing. Baru keesokan harinya penulis meninggalkan RRT untuk kembali ke Indonesia, dengan jarak terbang enam setengah jam. Kunjungan yang melelahkan, apalagi cuaca lima derajat di bawah nol selsius. Menurut seorang teman, kunjungan itu tersiarkan di layar Metro TV dengan menggunakan pakaian dingin ala Tiongkok, penulis tampak seperti Ketua Polit Biro PKT.

Dalam perjalanan tersebut Master Ching Kung selalu duduk di samping penulis dan beberapa kali diminta memberikan sambutan oleh tuan rumah. Peraih Doktor Honoris Causa dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat (Banten) ini senantiasa bersikap ramah tamah kepada orang dan memberikan pertolongan kepada penulis, termasuk memberikan jaket tebal (overcoat). Merupakan kepribadian yang sangat menarik hati, Master Ching Kung adalah orang yang berpendirian kuat, namun bersikap lemah lembut kepada orang lain. Ia pun membuat penulis mau diperiksa tubuhnya di hotel oleh dr. Liu, yang juga adalah orang yang menguasai pengobatan Tiongkok. Ia adalah orang yang menangani sejumlah pemimpin kelompok dan merawat sakit mereka hingga sembuh seperti Mao Zedong, Liu Shaoqi, Perdana Menteri Zhou Enlai dan lain sebagainya. Ia pula yang menyatakan kepada penulis, bahwa kebutaan penulis tidak bersifat selama-lamanya, dan disebabkan oleh terganggunya pankreas, ginjal dan limpa penulis. Gula hanyalah akibat belaka dari gangguan di atas.

Penulis berpisah dari para anggota delegasi lainnya di Yantai karena mereka akan meneruskan perjalanan ke Shanghai, keesokan harinya. Sedangkan penulis harus segera kembali ke Beijing dengan Richard Daulay, untuk keesokan harinya pulang ke Jakarta. Dengan hati berat penulis berpisah dari Master Chin Kung, walaupun ia berjanji akan bertemu penulis di Jakarta dalam perjalanan kembali ke Australia. Namun, karena penulis harus ke Jombang dan Blitar tanggal 25 dan 26 Desember 2004, penulis tidak tahu apakah dapat berjumpa lagi dengan Master Chin Kung. Menurut rencana, delegasi Indonesia termasuk Master Chin Kung harus berkunjung ke sebuah gereja di Shanghai, sebelum kembali ke Tanah Air. Para anggota delegasi merencanakan singgah di Singapura untuk menengok Cak Nurcholish Majid, sebelum kembali ke Jakarta. Penulis tidak tahu, apakah Master Chin Kung akan turut singgah di Singapura atau tidak. Karena itu, penulis tidak tahu juga adakah ia akan bertemu temannya itu di Jakarta atau tidak.

Dalam berbagai kesempatan, Master Chin Kung selalu menekankan pentingnya arti penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi modern di samping moralitas yang tinggi. Dalam berbagai bentuk dan ungkapan, tema yang ditujukannya selalu menyangkut hubungan sangat erat akan kedua hal itu, yang disebutkannya akan menghasilkan ‘kesadaran baru’ tentang ilmu pengetahuan, teknologi dan moralitas. Hanya dengan berlandaskan pada ketiga hal itu, sebuah masyarakat akan mencapai modernitas yang memiliki keseimbangan, antara hal-hal material dan spiritual. Ketika penulis mengemukakan apa yang diperbuat Fatullah Gulen di Turki, yang kini sudah tersebar di banyak negara bagian Australia, ia menyetujui gagasan penulis untuk bertemu para pengelola ‘sekolah-sekolah Turki’ itu. Ketika kemudian penulis mengemukakan, bahwa orang-orang itu menjadi aktivis bidang non-politik, sedangkan hal-hal politik diserahkan kepada Partai Keadilan dan Pembangunan pimpinan M. Rajab Erdogan, ia mengangguk-anggukan kepala sebagai tanda persetujuan.

Penulis menambahkan, hal itu terjadi juga di Indonesia dengan Nahdlatul Ulama, mengikuti jalur keagamaan, sosial, pendidikan, kesehatan dan ekonomi, sedangkan PKB mengurusi masalah-masalah politik. Sudah tentu apa yang dikemukakan penulis itu menjadi perhatian tokoh tersebut. Pemahaman yang sama untuk mencari pemecahan bagi masalah-masalah masa kini, tentunya merupakan topik yang mengena bagi sebuah ‘diskusi tingkat tinggi dan akan sangat bermanfaat itu. Hal-hal semacam inilah yang terlintas dalam benak penulis, ketika berada bersama-sama dengan Master Chin Kung. Perjalanan yang seharusnya melelahkan itu, ternyata tidak berat bagi penulis, dan tampaknya juga bagi Master Chin Kung sendiri. Dan tidak tampak ia beremosi ketika melihat dan mengunjungi wihara-wihara Budha, gereja Kristiani (baik Katolik maupun Protestan), kuil Tao maupun masjid kaum muslimin. Pikirannya melambung tinggi entah ke mana, tidak terikat dengan tempat-tempat tersebut.

Tak heranlah jika kemudiaan penulis diberitahu oleh banyak orang, baik tuan rumah atau bukan, yang menyatakan mereka sangat menghormati tulisan-tulisan dan pidato-pidato Master Chin Kung. Inipun terjadi juga di Beijing, yang berdunia politik monolitik dan para birokratnya. Sampai hari ini penulis tidak tahu, adakah Master Chin Kung yang mengikuti Joko Susilo atau sebaliknya. Penulis tidak ingin tahu hal itu, karena kunjungan tersebut memang sangat berhasil guna, dan memberikan banyak hal-hal yang perlu dipikirkan untuk memahami peranan ‘agama-agama Asia’. Para pemimpin agama seperti Master Chin Kung itulah yang semakin lama semakin diperlukan, namun juga yang sulit didapat. Hal ini semakin menjadi nyata dalam kunjungan kedua buah wihara yaitu sebuah wihara berbahasa Mandarin dan sebuah lagi berbahasa Tibet. Master Chin Kung tidak berbicara apa-apa tentang keadaan kedua rumah peribadatan tersebut. Ia biarkan penulis meramu pendapatnya sendiri dari berbagai keterangan tuang rumah dan para tamu.

Jelaslah dari uraian di atas, bersahabat dengan tokoh-tokoh seperti itu sangatlah berguna, dan banyak hal yang penulis pelajari dari sekian banyak percakapan dengan Master Chin Kung, walaupun singkat tapi sangat tinggi intentitasnya. Hal ini tentu berlawanan dengan emosi tinggi dan penuh hardikan yang sering didengar orang banyak dari mulut seorang mubaligh lokal, tetapi tidak memiliki rasa perikemanusiaan yang tinggi. Karena ia hanya menganggap diri sendiri yang benar, yang lain salah. Sikap seperti ini jelas berbeda dari sikap Master Chin Kung yang senantiasa menghargai orang lain, dan mencari nilai-nilai universal untuk dijadikan pegangan. Ini adalah bagian dari proses melestarikan dan membuang, yang biasa terjadi dalam sejarah manusia, bukan?