Peacock dan KB Nonblok

Foto: SBS https://www.sbs.com.au/language/indonesian/id/podcast-episode/andrew-peacock-and-the-australia-indonesia-relationship/efof4sazq

Oleh: K.H Abdurrahman Wahid

KB yang dimaksudkan di sini bukanlah yang umum dimengerti di negeri kita sebagai singkatan keluarga berencana (atau bahagia, besar, ataupun berantakan, tergantung dari mana melihatnya), melainkan singkatan dari kantor berita. Keduanya berlainan, tetapi sasarannya sama: warga Dunia Ketiga yang jumlahnya lebih dari dua miliar jiwa. Sedangkan Peacock di sini bukanlah kata Inggris untuk burung merak, melainkan nama menteri luar negeri Australia. Keduanya berlainan, walaupun ada persamaannya: suaranya tidak enak dan patukannya menyakitkan, setidak-tidaknya untuk lawan politiknya.

Menlu Andrew Peacock menyatakan, pada akhir lawatannya keliling dunia baru-baru ini, bahwa ia menentang berdirinya kantor berita yang tunggal bagi negara-negara Nonblok. Tentangannya itu diperkuatnya dengan argumentasi bahwa Menlu AS Cyrus Vance juga menyetujui sikapnya itu, seolah-olah, dengan demikian, telah diperolehnya dukungan para dewa di kahyangan. Keterangan Menlu Australia itu merupakan bukti dari sekian banyak hal yang berkenaan dengan Dunia Ketiga, yang tidak dimengerti oleh para pemimpin negara-negara yang telah maju. Mereka memakaikan baju sendiri pada Dunia Ketiga dan, kemudian, menilai kejanggalan yang terjadi karenanya secara spontan.

Apa yang menjadi keberatan bagi orang-orang seperti Menlu Peacock itu adalah timbulnya monopoli pemberitaan dari dan ke negara-negara Nonblok oleh kantor berita tunggal yang disebut-sebutnya itu. Berita yang datang ke negara-negara tersebut maupun yang diterima dari sana, sebagai akibat monopoli pemberitaan itu, ditakutkan akan hanya memiliki satu versi saja dan merugikan negara-negara yang telah maju. Ketakutan seperti ini adalah wajar, karena, bagaimanapun juga, monopoli selamanya mengandung bahaya dalam dirinya. Baik itu terdapat dalam lapangan pemberitaan ataupun bukan. Apalagi bagi warga dari negara yang telah matang demokrasinya seperti Australia, monopoli seperti itu merupakan hantu di siang hari yang sejauh mungkin harus dihindari. Kelebihan-kelebihan yang diperoleh dari sistem yang bersifat kompetitif di mata mereka adalah gambaran ideal yang dikejar sedapat mungkin, setidak-tidaknya dalam teori. Dalam prakteknya, mereka tidak segan-segan mendukung kelompok yang memegang monopoli atas segala-galanya dalam hubungan mereka dengan negara-negara Dunia Ketiga selama kelompok itu mendukung kepentingan mereka. Adalah menarik untuk melihat orang seperti Menlu Peacock yang menentang monopoli sebuah KB Nonblok atas jalannya pemberitaan sambil berpangku tangan melihat monopoli korporasi-korporasi multinasional atas perekonomian negara-negara tersebut.

Benarkah penilaian Menlu Peacock yang disebutkan di atas? Untuk mengetahui jawabannya, kita harus menelaah sebab-sebab yang mendorong timbulnya ketunggalan KB Nonblok tersebut. Sebab itu, dapat dicari pada keterbatasan biaya dan lain-lain sebab teknis. Tetapi, sebab yang paling utama sebenarnya adalah politis. Jika didirikan dua buah KB Nonblok, antara keduanya tidak dapat dihindari, tentu akan terjadi rivalitas yang sengit yang akan mendorong keduanya mengambil orientasi yang berlainan. Kecenderungan untuk perbedaan orientasi itu akan semakin diperbesar oleh perimbangan politik negara-negara Nonblok sendiri yang terbagi dalam dua orientasi: negara-negara yang menganut demokrasi liberal seperti India dan negara-negara dengan sistem pemerintahan otoriter atau semiotoriter. Masing-masing pihak tentu akan mendukung kantor berita yang berorientasi sama dengan filsafat politiknya sendiri. Dengan demikian, bagi masing-masing kantor berita tentu akan ada hambatan untuk beroperasi di negara-negara yang tidak mendukungnya.

Dengan kata lain, alternatif bagi Kantor Berita Nonblok yang tunggal adalah dua buah kantor berita setengah nonblok. Kemungkinan inilah yang tidak dilihat oleh para negarawan seperti Menlu Peacock. Persaingan yang menjadi inti hidup bermasyarakat yang sehat di negara-negara yang telah maju akan memberikan hasil lain jika dilaksanakan di negara-negara berkembang oleh mereka yang belum mengetahui aturan permainannya.

Lalu, bagaimana dengan bahaya monopoli pemberitaan yang ditakuti oleh orang-orang seperti Menlu Peacock? Benarkah pemberitaan itu hanya akan berwajah tunggal, yang akan menutupi kenyataan yang ada dalam kehidupan negara-negara berkembang? Rasanya sulit untuk membenarkan kekhawatiran tersebut. Keaneka-ragaman pendapat, baik di kalangan negara-negara berkembang sendiri maupun di kalangan pimpinan KB Nonblok tersebut, akan menjamin arus berita yang beranekaragam pula.

Belum lagi kalau diingat bahwa kantor-kantor berita nasional di negara-negara Nonblok sendiri tidak hanya akan mengambil berita dari kantor berita tunggal Itu saja, melainkan akan tetap berlangganan juga dengan kantor-kantor berita Internasional lainnya, seperti UPI (United Press International), Reuters, AFP (Agence France Presse), dan Tass. Bahkan, di negara dengan pemberitaan mono- lit seperti Uni Soviet tidak dapat dicegah munculnya versi ganda pemberitaannya sebagai hasil dari para wartawan negara-negara yang telah maju dalam mengorek berita. Apalagi di kalangan negara-negara berkembang yang kerapian sekuriti pemberitaannya masih sederajat dengan kerapian kerja seorang spion Melayu. Kekhawatiran akan terhentinya arus berita yang riil oleh pemulasan pemberitaan dari KB Nonblok yang tunggal itu adalah kekhawatiran yang berlebih-lebihan bagaikan melihat hantu di siang bolong.

KB Nonblok memang diperlukan, setidak-tidaknya untuk menyajikan versi baru dalam pemberitaan internasional. Pendekatan yang dilakukan oleh kantor-kantor berita Barat biasanya ditekankan pada kehangatan nilai beritanya. Berita yang baik haruslah berita yang aktual, begitulah pemeo mereka.

Ini membawa kecenderungan pada pengumpulan berita sensasional yang hanya menyentuh permukaan kehidupan belaka. Inilah yang mendasari pemberitaan mereka akan pertikaian-pertikaian sesaat di dalam maupun antar negara-negara Nonblok dengan melupakan banyaknya kesamaan-kesamaan yang merupakan tali pengikat antara kesemua negara itu. Arus bawah kehidupan yang berupa perjuangan gigih negara-negara berkembang untuk melakukan transformasi sosio-kultural masyarakat masing-masing dalam keadaan sosial dan ekonomi yang tidak menggembirakan hampir-hampir tidak pernah mendapat sorotan mereka. Gerakan-gerakan seperti U-Jama’ah di Tanzania dan koperasi di Indonesia dengan problem-problem yang dihadapinya tidak pernah diberitakan, karena dianggap kurang hangat.

Kalaupun ada pemberitaan akan hal-hal seperti itu, tentu ia dilakukan dari sudut penglihatan mereka sendiri. Radio Suara Amerika memberitakan kesulitan yang dihadapi India dalam soal pangan bukanlah karena kurangnya hasil panenan, melainkan karena kesulitan dalam soal distribusi pangan. Seolah-olah jutaan manusia yang kelaparan di sana akan menjadi kenyang kalau masalah pengangkutan, pergudangan, dan pengeceran dapat diselesaikan. Padahal, persoalannya jauh lebih mendasar, menyangkut struktur kehidupan sosial-ekonomis India sendiri. Selama tuan-tuan tanah (zamindari) masih memiliki ribuan hektare tanah per orangnya dengan jutaan buruh tani yang memperoleh penghasilan sangat rendah, selama itu pula persoalan pokoknya belum terpecahkan, sementara masyarakat India masih tetap menjadi masyarakat agraris. Siapakah yang akan mengemukakan kenyataan-kenyataan seperti ini, jika bukan sebuah KB Nonblok? Pernahkah UPI menyiarkan cerita perjuangan proyek-proyek pedesaan kita seperti SFMA-nya Dr. Sarino Mangunpranoto, padahal mereka selalu menyiarkan “keberhasilan” korporasi-korporasi seperti Arco dan Alcoa untuk memperoleh izin menanamkan modal di bumi kita?