Gus Dur, Sudharmono, dan Meutia Hatta Ziarah ke Makam Bung Hatta di Tanah Kusir | Flashback

Sumber Foto: https://suprizaltanjung.wordpress.com/2013/10/10/berkunjung-ke-makam-bung-hatta/

Oleh: K.H. Abdurrhman Wahid

Bapak Ibu Sudrajatjat, Bung Hatta juga Bung t dalam suasana Indonesia dipimpin oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Karena itu bagi orang segenerasi saya maka kedua beliau ini tidak dapat dipisahkan dari satu sama lain, maupun dari perjuangan rakyat Indonesia mencapai kemerdekaan dan mengisinya sekaligus. Karenanya saya atas nama bangsa ini menyatakan kepada keluarga bahwa peringatan 20 tahun wafatnya Bung Hatta hari ini di tempat ini bukanlah hanya milik keluarga atau masyarakat setempat melainkan milik seluruh bangsa Indonesia. Kalau bangsa Indonesia sanggup menghargai kepahlawanan kedua beliau, maka bangsa Indonesia pantas disebut sebagai bangsa yang besar. Hal ini kita lihat dari hadirnya orang semacam Pak Darmono, Pak Edi Sudrajat orang-orang yang selama ini mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan orang lain.

Karena itu contoh pengabdian kepada negara dan bangsa yang diperlihatkan Bung Karno dan Bung Hatta haruslah menjadi pedoman dalam hidup kita. Terlepas dari perbedaan pandangan antara kedua beliau, karena berbeda pandangan itu adalah wajar. Justru yang harus kita petik dari generasi beliau adalah kenyataan bahwa perbedaan pandangan tidak boleh memutuskan silaturahim antara kita. Saya teringat bahwa Pak Prawoto Mangkusaswito sebagai wakil ketua umum Partai Islam Masyumi justru memperoleh rumah dari Pak Kasimo ketua umum Partai Katolik. Ini sebuah contoh, betapa pada waktu itu perbedaan pandangan secara ideologis tidaklah mengharuskan orang bercerai-berai satu dari yang lain.

Saya sendiri masih ingat di waktu kecil umur 5 tahun ayah saya mengajak saya tinggal di jalan Imam Bonjol nomor 40. pada waktu itu kalau sore hari atau malam harilah ya sekitar jam ada orang mengetuk pintu. Entah berapa bulan di situ dan berapa belas kali beliau datang, ada seseorang mengetuk pintu dan mengatakan kepada saya ketika saya buka pintunya “Apa Bapak ada” Ada Pak Silakan duduk, “bilang ada Pak Husein”. Saya masuk ke dalam dan saya katakan pada ayah saya ada Pak Husein. Ayah saya keluar, saya ikutkan dari belakang sebagai seorang anak kecil. Beliau berpeluk-pelukan dengan orang itu dan beliau mengatakan pada saya “Tolong bilang sama ibu, ada Pak Husein siapkan makanan”. jadi saya terbiasa melihat Pak Husein ini sebagai teman ayah saya, baru belakangan setelah dewasa saya mengetahui dari ibu saya bahwa Pak Husin itu adalah Tanmalaka. Seorang anggota Kominter (Komite Internasional) dari Partai Komunis Uni Soviet yang dipimpin oleh Joseph Stalin. Nah, tidak masuk akal bagaimana seorang yang memimpin organisasi Islam sebagai ayah saya, ayah saya bisa begitu erat dengan seorang dari Partai Komunis namanya Tanmalaka. Ya inilah warisan yang harus kita lestarikan.

Saya rasa Bung Hatta juga demikian teman-temannya di negeri Belanda tadi tidak disebut oleh Mas Edi ada Sewaka dan lain-lain yang terlibat di dalam Perhimpunan Indonesia adalah orang orang yang bermacam-macam ideologinya. Tetapi semua itu terkubur oleh hubungan pribadi yang baik. Bahkan bukan rahasia lagi Bung Hatta dengan Bung Karno bertentangan sangat hebat mengenai masa depan demokrasi di negeri kita. Keseluruhan demokrasi kita, buku kecil Bung Hatta bukti daripada hal ini. Buku kecil inilah yang menjadi pedoman bagi saya ketika saya harus melihat perkembangan keadaan di negeri kita. Nah, apakah hingga mati beliau itu juga benci pada Bung Karno? Tidak, berbeda pendirian itu biasa-biasa saja tetapi hubungan sebagai seseorang yang sama berjuang dengan Bung Karno tidak bisa hilang. Inilah yang dicontohkan oleh Bung Hatta oleh orang-orang seperti Kasimo, Prawoto Mangkusasmito yang mudah-mudahan dapat kita timbulkan lagi di kemudian hari. Boleh kita berbeda pandangan tetapi kita hendaknya tetap satu karena membela negara yang satu.

Ini diajarkan antaran lain oleh Pak Ali Sadikin, saya perhatikan ketika beliau menjadi gubernur, bagaimana menyayangi semuanya tanpa pandang bulu. ya ini berarti bangsa kita masih mewarisi sikap-sikap dari generasi pendahulunya. Mudah-mudahan hal ini dapat kita lakukan seterusnya, sehingga nanti bangsa kita terkenal sebagai bangsa yang sanggup menghargai manusia lain. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW “Man lam yaskurinnasa lam yaskurillāh” (Barang siapa tidak mensyukuri manusia tidak mensyukuri Tuhan). Hendaknya kita menjadi orang yang bisa mensyukuri Tuhan, karena mensyukuri manusia.

Jasa bung Hatta, jasa bung Karno demikian besar. Sehingga tidak bisa dihitung oleh kita, sejarahlah nanti akan menguraikan betapa jasa itu sangat besar bagi terbangunnya negara ini. Bung Hatta tidak banyak bicara, banyak yang beliau inginkan, ingin katakana, sebenarnya telah dikatakan oleh Bung Karno. Jadi karena itu kedua-duanya boleh berbeda pendapat tetapi tetap bersikap yang baik satu terhadap yang lain. Kebersahajaan Bung Hatta merupakan sesuatu yang sangat berharga pula, kebersahajaan seorang yang paham betul perjuangan dan mengerti betul artinya peranan ilmu pengetahuan bagi kehidupan kita. Di kedua tempat inilah berjuang untuk kepentingan rakyat melalui koperasi dan melalui dunia politik, serta memajukan ilmu pengetahuan sesuai dengan tulisan-tulisan beliau di dalam beberapa buku. Adalah sesuatu yang terus-menerus dihayati oleh Bung Hatta sampai wafat beliau. Kita berhutang semua kepada Bung Hatta dan saya berhap agar supaya Generasi Muda kita dapat meniru perjuangan Bu Hatta. Sehingga kita sebagai bangsa tetap akan besar dan Jaya. Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh