Halal Bihalal: Gus Dur, Setiawan Djodi, WS Rendra & Tokoh Lain Bahas Sukseskan Pemilu 1999
Oleh: K.H. Abdurrahman wahid
Asalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Mas Jodi sebagai tuan rumah dan Mbak Yu. Pak Nurholis Majid sebagai teman, Pak Sumargono sebagai teman, dan kawan-kawan lainnya. Ada Bang Buyuh yang saya tahu tadi ya, tapi saya enggak bisa sebut satu persatu. Saya tidak akan berpanjang-panjang karena memang ini saya beserta dokter adik saya sendiri. Jadi hanya tersedia waktu 15 menit untuk saya berbicara kepada Anda semua. Sesudah itu saya harus meninggalkan tempat ini.
Tadi saya ke Pak Harto untuk berlebaran kepada beliau. Tentu banyak yang enggak setuju, tapi saya rasa setuju tidak setuju itu soal biasa dalam kehidupan. Jadi itulah yang saya jalani tadi, karenanya terlambat sampai di sini. Saya minta maaf sebesar-besarnya kepada anda semuanya. Saya diminta oleh Mas Jodi untuk berbicara mengenai pertemuan dengan Pak Wiranto beberapa hari yang lalu. Tetapi terus terang saja nanti saya pikir itu dijalani oleh Cak Nur saja. Kalau saya karena waktunya tersedia sedikit sekali, hanya kira-kira 15 menit, maka saya cukupkan dengan menyampaikan mengapa saya berpendirian seperti yang saya kemukakan selama ini. Yang saya tahu banyak bertentangan atau berbeda daripada pendapat Anda masing-masing. Justru di sinilah keindahannya Islam. Orang boleh berbeda pendirian boleh kalau perlu boleh berhadapan. Kalau perlu boleh bersih tegang leher, tetapi pada akhirnya kita toh satu saja. Kita ini hanya satu pihak saja yaitu pihak Islam. Di hadapan pihak-pihak yang lain itu tentu kita istilahnya “tego larane ora tega patine”. Boleh tega sakitnya tapi tidak akan tega melihat matiya. Jadi Anda terhadap saya demikian, saya terhadap Anda demikian. Sama saja kita sama-sama sebagai muslim.
Nah, itu kalau terhadap yang lain. Bagi yang lain, bukan terhadap berbagi. Saya juga terbuka saja, bahwa saya menyayangi mereka. Kalau ada yang tidak sayang ya itulah tidak ada masalah apa-apa. ketika Al-qur’anul Karim menyatakan bismillahirrahmanirrahim “wa may yabtaghi ghairal-islâmi dînan fa lay yuqbala min-hu, wa huwa fil-âkhirati minal-khâsirîn” (Barang siapa mengikuti selain Islam sebagai agama, maka orang itu tidak diterima amalnya di akhirat dan di akhirat akan menjadi orang yang merugi). Bagi saya itu, artinya Qur’an menyatakan kepada mereka, “Silakan Anda mau berbeda atau tidak berbeda, itu urusan Anda di akhirat menjadi urusannya Tuhan, bukan urusan kita di dunia sekarang. Nah ini pendirian saya, tentu agak berbeda dengan pendirian sebagian teman-teman. Tapi ya memang di situlah perihal Islam itu berbeda pendapat satu dari yang lain.
Kemudian bahkan ada yang mengatakan: “wa lan tarḍā ‘angkal-yahụdu wa lan-naṣārā ḥattā tattabi’a millatahum”, (Bahwa orang Yahudi dan orang-orang Kristen tidak akan ridho kepadamu wahai Muhammad sampai engkau mengikuti mereka). Jawab saya gampang saja. Dalam hal apa? Kalau dalam hal akidah iya, memang orang Yahudi dan orang Kristen tidak rida kepada kita dan kita orang Islam tidak boleh rida kepada orang Kristen dalam hal akidah, tidak boleh rida. Kita tetap harus berbeda pendirian dari mereka. Tapi itu tidak berarti bahwa kita tidak boleh bermuamalah dengan mereka, muamalah jalan terus, tidak ada masalah. Karena itulah Qur’an benar ketika mengatakan: ”lâ ikrâha fid-dîn, qat tabayyanar-rusydu minal-ghayy”, bahwa tidak ada paksaan dalam agama telah terbedakan dengan jelas antara yang palsu dan yang benar. Antara yang benar dan yang palsu.
Jadi hal-hal semacam ini yang menjadi pegangan saya. Karena itu saya rasa sebaiknya hal semacam ini kita apa namanya kita, kita sadari benar, bahwa orang boleh berbeda pendapat dan kalau rperlu sengit gak apa-apa. Saya dengan Cak Nur ini bukan main banyak bedanya tetapi lebih banyak persamaannya karena sama-sama berakidah yang sama, beragama yangsama. Jadi itu yang menjadi pikiran dari saya ketika ini. Bahkan kalau ditanya Islam itu apa toh? Ya, esensinya sederhana. Ini ayat yang biasa dibacakan oleh Cak Nur di mana-mana, tapi saya maknai sedikit lain, yaitu: ”Mā afā`allāhu ‘alā rasụlihī min ahlil-qurā fa lillāhi wa lir-rasụli wa liżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wabnis-sabīli kai lā yakụna dụlatam bainal-agniyā`i mingkum”. Apa yang dilimpahkan oleh Allah sebagai harta yang baik, tuntutan atas orang nonmuslim dari hartanya orang-orang di sekitar Madinah. Harta kaum-kaum nonmuslim di sekitar Madinah. Walillah untuk kepentingan Allah. Dipakai untuk kepentingan Allah membuat masjid, lembaga-lembaga pendidikan, lembaga-lembaga dakwah dan sebagainya. Walir rasuli, dan untuk kepentingan pembiayaan kegiatan Rasulullah, pembiayaan umat Islam sekarang. Mau pengajian, mau apa kek, mau peringatan ini, peringatan itu, pembiayaannya semua itu dari Fai. Nah, kalau dari Fai saja boleh, apalagi dari zakat, dari yang lain-lainnya hartanya orang Islam sendiri.
Kemudian wa liżil-qurbā dan untuk kepentingan sanak keluarga yang memerlukan. Ini artinya apa? Artinya kita membuat semacam apa yang dibuat oleh Ayatullah Khumaini di Iran yaitu mengadakan Qhordul Hasanah. Pinjaman yang baik dari hasanah keluarga, wa liżil-qurbā dan untuk orang-orang yang dekat dengan kita, walyatama anak-anak yatim, wal masakin dan orang miskin. Ini jelas sekali, maksud saya itu jelas kita lebih mementingkan persamaan hak-hak orang muslim, hak-hak warga negara dimuka agama daripada perbedaan-perbedaan didalam kita semua. Maka ”dar’ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih” menghindarkan kerusakan diutamakan daripada membawa kebaikan. Jadi bagi mereka yang berpendirian seperti saya, kita menghindari kerusakan lebih penting. Seperti contohnya sekarang, orang lagi ribut tentang Pak Harto. Nah, saya berpendirian begini, Pak Harto ini masih banyak pengikutnya, masih banyak orang yang cinta kepada beliau. Kalau kita sudah selesaikan dari sekarang sikap kita ya, bikin skala prioritas yang benar di mana urusan Pak Harto itu menjadi urusan nomor ke berapa gitu ya. Maka kita lupa nanti kepada masalah paling pokok yaitu bagaimana mengatasi krisis pangan, bagaimana mengatasi krisis ekonomi, bagaimana menciptakan pemerintahan yang kuat yang bisa mengatasi krisis-krisis tadi. Bagaimana menegakkan segala macam aturan-aturan yang kita bikin agar supaya dapat berjalan. Nah, baru bagaimana kita bawa Pak Harto ke pengadilan. Jadi bukan langsung sekaligus lalu dibawa ke pengalian, enggak menyelesaikan masalah. Karena sistem ini akan berkelanjutan.
Bagaimana menjamin pemilu berjalan tepat pada waktunya agar supaya pemerintahan ini ada uangnya, karena diberi bantuan dari luar negeri agar supaya ABRI ada gajinya. Orang suka marah-marah kepada ABRI. Lupa satu hal, anak-anak yang ini di antara kalian banyak yang menjadi mahasiswa ketika berhadapan dengan tentara dalam masalah demonstrasi dan sebagainya. Anda lupa satu hal, bahwa yang Anda hadapi adalah orang-orang yang gajinya tidak cukup untuk makan. Bagaimana menghidupi keluarga itu pikiran besar untuk mereka. Baju anda baik-baik, baju mereka kumal-kumal enggak karu-karuan. Dan tentu saja mereka gampang marah dan gampang bertindak kepada anda. Lah hal-hal macam ini harus kita pikirkan. Kita tidak berdiri atas abstraksi atau situasi kosong vakum saja, tapi juga atas kenyataan-kenyataan yang ada. Karena itulah saya mengambil sikap yang kadang-kadang memang terasa agak aneh.
Ketika kawan-kawan minta supaya dwi fungsi ABRI segera diselesaikan hari ini, saya jawab, “Mana mungkin hari ini, kita nipu orang lagi.” Lebih baik terus terang saja, enggak mungkin hari ini. Kasih waktu yang jelas kapan? 6 tahun lagi, ya sudah 6 tahun lagi, satu kali pemilu lagi ya sudah. Nah, itu sikap-sikap dari orang-orang kayak saya melihat praktik kenyataan hidup dan juga melihat kepada kebutuhan mendirikan bangsa yang jelas, negara yang kuat. Yang berdiri atas dasar bersamaan hak antara sesama warga Masyarakat, yang berdiri atas dasar kebebasan berbicara, kebebasan berpikir dan sebagainya. Nah, ini penting saya kemukakan dalam acara semacam ini. Karena apa? Karena yang ini untuk menyenggol orang. Untuk itu semua, saya minta maaf yang sebesar-besarnya kalau dianggap nyenggol termasuk juga kepada Cak Nur, ini kalau dianggap nyenggol ya tidak lain tidak bukan niatnya itu baik-baik saja gak ada niat lain. Kita sama-sama muslimnya, insyaallah di masa-masa yang akan datang kita akan mendirikan bangsa muslim yang kuat. Kita akan mendirikan kaum muslim yang baik, pihak muslim yang baik sekali.
Sekarang kita tertinggal, ketinggalan itu kita kejar. Kita kejar sebanyak mungkin, sehingga kita bisa menjadi orang yang sejajar dengan orang-orang lain kalau perlu melampaui. Inilah hakikat dari kata-kata yang biasa anda ucapkan Fastabiqul khairat (hendaknya kalian berlomba-lomba di jalan yang baik). Berlombanya bukan dengan sesama muslim, dengan orang-orang non muslim kalau mengikuti ayat Al-Qur’an.
Demikianlah, saya rasa saudara-saudara ini sudah 15 menit. Tidak lain tidak bukan ini semua hanyalah sebagai pengantar halal bihalal yang sesungguhnya dilaksanakan oleh Cak Nur dan Pak Margono dan sebagainya ini. Tinggal satu hal, yaitu perbedaan kita mengenai Pak Theo Syafi, sudahlah nanti akan kelihatan mana yang benar dan mana yang tidak nanti gampang. Itu antara kita aja, gitu aja kok repot. Saya dengan Mas Margono boleh berbeda pendapat, dia menuntut supaya Pak Theo Syafi diadili di pengadilan sekarang. Saya juga begitu sama saja, nanti akan terbukti semuanya di pengadilan. Karena itu marilah kita, antara kita ini tidak usah rebut-ribut. Yang penting antara kita ini sama-sama mendukung dan mendorong. Sehingga akhirnya maju bareng-bareng dan kalau kita maju bareng-bareng insyaallah Islam akan jaya selama-lamanya.
Demikianlah saudara-saudara. Saya tidak akan berpanjang-panjang. Oh, ya. Ini Cak Nur bilang soal pertemuan dengan Pak Harto tadi. Saya hanya berlebaran dengan pak Harto. Iya artinya saya berlebaran, saya bilang bahwa sebaiknya Pak Harto ini saya berlebaran Pak Harto minta maaf sebesar-besarnya dan saya hanya sampaikan pada beliau. Bahwa harapan dari Pak Wiranto ini adalah supaya beliau menggunakan pengaruhnya kepada anak buah, kepada orang-orang yang seram-seram itu loh. Supaya beliau menggunakan pengaruh beliau kepada anak-anak buah agar tidak menimbulkan hal-hal yang macam-macam kayak di Ambon dan sebagainya. Nah, itu saya minta ya supaya ini dilakukan. Kenapa? Hanya beliau yang bisa mencegah, orang lain enggak bisa mencegah. Kenapa? Karena mereka itu orang-orang yang sangat terpengaruh dengan kondisi beliau.
Kalau kita ini tiap hari geger mau nyeret dia ke pengadilan, orang tua kok mau diseret iki loh. Ya, bawa ke pengadilan secara baik-baik adi. Tapi ya ingat skala prioritas tadi. Jangan kita ribut mau ngadili Pak Harto saja tapi ternyata kok pemerintahnya murat enggak karu-karuan. Akhirnya ekonominya juga kacau balau. Sebenarnya yang ingin saya sampaikan pada Pak Harto cuma itu saja tadi. Yang lainnya itu hanya berbaik-baikan hati saja bersalam-salaman atau lebaran minta maaf yang sebesar-besarbya. Enggak tahu saya apa dia mau cerita lebih Panjang, tapi waktunya enggak ada. Adik saya sudah nunggu di luar. Saya cuma bilang bahwa supaya pemilu bisa terlaksana dengan baik, saya pakai kata-kata kayak ngajarin orang tua. Jadi ya, agar supaya pemilu yang lain terlaksana.