Arah Dua Pola Kehidupan (4)

Sumber foto: https://intisari.grid.id/read/033072682/peta-kuno-pulau-jawa-terbongkar-tunjukkan-pulau-jawa-tebelah-menjadi-dua-bagian-menunjukkan-kerajaan-sunda-dan-majapahit-yang-tidak-bersatu-karena-hal-ini?page=all

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid

Sekarang marilah kita lihat sejenak ikhwal Kerajaan Majapahit di kawasan yang sekarang kita kenal dengan nama Jawa Timur. Kerajaan ini bermula dari pertengkaran antara Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari abad ke-XIII masehi -di dekat kota Malang saat ini- dengan menantunya Raden Wijaya. Kerajaan Hindu-Budha itu, mengusai kawasan sangat luas dan praktis tidak mempunyai lawan-lawan di kawasan tersebut. Kalau pertengkaran itu timbul karena ambisi politik pribadi sang menantu, tentu ia akan mendirikan kerajaan di salah satu dari daerah berikut: di barat Singosari, daerah pegunungan yang sulit dicapai oleh bala tentara Singosari yaitu di selatan kota Malang (daerah Gunung Arjuna sekarang) atau di pegunungan sebelah timur (paling ideal daerah Bondowoso Jember sekarang).  Karena ia memilih lari ke utara dan mendirikan kerajaan baru di dekat sungai Brantas, yang tidak sampai 100 km dari Singosari dan mudah diserang, menunjukkan bahwa motif Raden Wijaya dalam hal ini bukan ambisi politik pribadi, melainkan masalah perbedaan agama. Ia mendirikan kerajaan baru itu, yang kemudian di kenal dengan kerajaan Majapahit di desa Tarik. dekat sungai Brantas dan adalah “angkatan laut” Tiongkok yang bertentara ribuan orang, dengan hampir seluruh personilnya beragama Islam, yang menjadi pelindungnya. Letak ibu kota Majapahit di Tarik menunjukkan bahwa kehidupan beragama mereka, berada di bawah perlindungan Tarekat Qadiriyah.

Memang tidak ada “bukti-bukti sejarah” berupa Prasati ataupun barang-barang lain tetapi ini adalah spekulasi sejarah yang dapat penulis pertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan rasional dalam melihat sejarah masa lampau bangsa kita, dapatlah dicapai kesimpulan seperti itu. Terlebih jauh lagi, dengan melihat letak geografis karajaan itu dekat sungai besar seperti Brantas, tidak salah juga menyimpulkan bahwa Majapahit adalah kerajaan yang berpola hidup: niaga laut. Penulis tidak tahu, sampai seberapa jauh munculnya orientasi niaga laut ini dipengaruhi oleh sisi Budha dari kaum Hindu Budha, yang bercampur dengan orientasi kaum sufi dari tarekat Qadiriyah. yang jelas pengaruh angkatan laut Majapahit, -dengan Bendera Merah Putihnya- segera memiliki kawasan sangat luas. Dari pulau Madagaskar di pantai timur benua Afrika:hingga ke pulau Tahiti di kawasan Pasifik serta kepulauan Nusantara di antara keduanya, seluruhnya menjadi “daerah kekuasaan” berada di baawah kekuasaan angkatan laut Majapahit. Penulis juga berani berspekulasi lebih lanjut, bahwa angkatan laut Majapahit itu juga berada di bawah kekuasaan angkatan laut Tiongkok -semacam angkatan laut dan angkatan udara Australia/Canada yang tunduk kepada Ratu Inggris. Sebagai aparat sebuah negara induk, negara fatsal seperti ini memiliki kemerdekaan penuh menentukan nasibnya sendiri. Inilah bedanya antara hukum internasional dan diplomasi. Dengan demikian jelaslah, orientasi niaga-laut ini dimiliki kerajaan Majapahit.

Pertempuran demi pertempuran di seluruh wilayah nusantara, memerlukan biaya yang tidak sedikit. Biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat Majapahit sendiri menjadi sangat besar, sementara perkembangan agraris dalam lingkungan kerajaan yang menjadi kekuatan finansial luar biasa, tidak membuat kerajaan itu menjadi lebih kuat. Demikian juga, pertentangan antara kaum Muslimin melawan para penganut agama Hindu-Budha (dikenal waktu itu dengan sebutan Bhairawa) semakin membuatnya lemah secara politis dan militer. Kenyataan ini harus dipertimbangkan secara mendalam, walaupun tidak ada “bukti-bukti kesejarahan” yang mendukungnya.

Pertentangan antara para penganut kedua agama itu mencapai titik puncaknya pada pertempuran Troloyo (satu kilometer di timur Trowulan). Putri permaisuri Kencana Wungu, bernama Kusumawardhani yang kawin dengan Adipati Kediri dalam masa pemerintahan Prabu Brawijaya V, dalam abad XV masehi mencoba merebut ibukota kerajaan di Trowulan,  karena melihat kekuasaan semakin besar dari istri selir beliau, bernama Putri Campa, seorang wanita Cina dari Compongchom sekarang di Kamboja. Bahkan mungkin Brawijaya V sendiri “berhasil di-Islamkan” olehnya. Pertempuran Troloyo itu mengakibatkan gugurnya banyak pahlawan muslim, akhirnya adipati Kediri itu menjadi Raja Majapahit dari kalangan Bhairawa, bergelar Prabu Brawijaya VI.

Prabu Brawijaya V sendiri lalu lengser dari jabatan meninggalkan ibu kota Trowulan dan pergi ke gunung Lawu di kawasan Magetan. Dari situlah ia kemudian di kenal sebagai Sunan Lawu. Untuk membatasi ruang geraknya, para pemuka Bhairawa mengirimkan para “penjaga” dalam berbagai bentuk kekuatan-kekuatan, yang akhirnya menimbulkan kepercayaan bahwa tempat itu adalah hutan yang angker dan serba menakutkan. Keyakinan itupun masih ada sampai saat ini, kerenanya hutan itu menjadi “bebas” dari penjarahan dan penebangan liar yang terjadi di seluruh tanah air. Mungkin inilah salah satu kegunaan mitos-mitos yang masih di yakini penduduk kita terutama dari kawasan pedesaan.

*****

Bagaimanakah hanya dengan orientasi niaga-laut yang dimiliki kerajaan tersebut. Ternyata orientasi itu masih dipegang teguh oleh Kesultanan Demak, beberapa tahun setelah pertempuran Troloyo tersebut. Dari daerah petempuran itu, dengan menggunakan pakaian serdadu biasa, Maulana Ishak Al-Tabarqi. Kata al Tabarqi dalam bahasa Arab menunjukkan nama sebuah tempat di Libya Timur di masa Islam. Dahulunya bernama Tuapeka di jaman Romawi dan Carthago, sedangkan sekarang disebut dalam bahasa modern sebagai Tobruq. Maulana Ishak membawa lari anak ratu selir tersebut, bernama Then-eng-hoat mereka berdua menjadi arsitek kesultanan pertama di pulau Jawa bernama Demak.

Kesultanan inilah yang kemudian melanjutkan oientasi niaga-laut kerajaan Majapahit itu selama seabad. Kota-kota pelabuhan penting di lingkungannya menjadi ramai di lingkungannya Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, Tuban, Gresik dan Surabaya adalah kota-kota pelabuhan penting yang menunjukkan ramainya niaga laut dibawah Kesultanan Demak. Bahkan, pertempuran laut antara Adipati Unus dari Jepara menunjukkan bahwa kapal-kapal angkatan laut Demak (yang dilanjutkan kerajaan Jhipang) menunjukkan kuatnya orientasi tersebut di kawasan Pantai Utara, sekarang disebut sebagai wilayah dua propinsi: Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menjaga orientasi niaga laut memang mudah dikatakan, tetapi sulit dilakukan bukan?