Haruskah Ada Kesepakatan?

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid

Sewaktu penulis berkunjung ke Boston, kota pelajar di Amerika Serikat (AS), bulan September 2002, penulis diminta memberikan ceramah bagi sejumlah mahasiswa asing di Kennedy School of Government Universitas Harvard. Penulis diminta para mahasiswa tersebut melalui anak penulis Zannuba Arifah Chafsoh yang belajar di situ untuk program setahun lamanya. Saat itu minggu sore hari, penulis diminta berbicara mengenai situasi global saat ini, bagaimana responsi gerakan-gerakan dan negara-negara muslim di dunia atas perkembangan tersebut, dan apa akibatnya bagi Indonesia.

Sungguh sebuah tema yang besar —yang tentunya tidak akan dapat dikemukakan hanya dalam waktu dua jam saja, dan itu pun termasuk dengan tanya jawabnya sekalian. Demikian pula, melihat komposisi mahasiswanya yang datang dari berbagai negara, kiranya tidak memungkinkan untuk mengupas satu per satu tema di atas. Sebab, bagi mahasiswa-mahasiswa Amerika Latin —misalnya, tentu tidak tahu persoalan Asia Tenggara. Dan begitupun mahasiswa non-muslim tentu juga tidak mengerti masalah-masalah yang dihadapi kaum muslimin. Karena itu, penulis harus memilih masalah paling utama yang sedang aktual dibicarakan di mana-mana, yaitu rencana penyerangan dan pemboman AS atas Irak. Dari hal itulah baru dikemukakan hal-hal mendasar yang menyangkut ketiga tema di atas.

Penulis beranggapan, penyerangan dan pemboman AS atas Irak dapat dipastikan akan mencapai semua hasil yang diharapkan. Mungkin, karena masalah produksi dan penyediaan bahan bakar minyak bumi yang melimpah-ruah dapat diubah melalui penyerangan tersebut, atau Saddam Husein digulingkan dari pemerintahannya. Tetapi bahwa Irak akan menjadi negara penurut bagi AS, rasanya jauh dari kenyataan. Para pemimpin oposisi Irak yang menentang Saddam Husein dan baru-baru ini berkumpul di Gedung Putih—setelah memegang tampuk pemerintahan dukungan AS, belum tentu nantinya akan mengikuti kehendak negara Paman Sam itu. Untuk dapat bertahan, mereka harus pandai-pandai menampung perasaan rakyat Irak yang benci terhadap campur tangan asing, dalam hal ini adalah AS. Ini semua, merupakan sebuah aspek saja yang harus diperhitungkan dalam melihat permasalahan di atas.

*****

Sekali lagi, menjadi nyatalah bagi kita bahwa kekuatan saja belum tentu dapat mengubah perasaan orang banyak. Ada residu perasaan tidak senang, apabila kekuatan dan kekuasaan digunakan secara berlebihan. Dalam jangka panjang, hanya kerugian bagi semua pihak saja yang terjadi akibat pertimbangan-pertimbangan geopolitik yang digunakan AS saat ini. Karenanya, kita harus berhati-hati dengan berbagai pertimbangan tersebut, apalagi kalau tindakan yang diambil sangat dipengaruhi oleh emosi para pengambil keputusan.

Tampaknya, Presiden AS George W. Bush Jr, merencanakan serangan dan pemboman atas Irak itu dengan pertimbangan mencari popularitas, karena ketidakmampuan memecahkan krisis ekonomi AS yang sedang terjadi. Tetapi bahayanya, kalau serangan dan pemboman besar-besaran itu tidak menghasilkan sikap Irak untuk mengikuti kehendak AS -katakanlah di bidang minyak bumi, ditambah dengan jumlah besar penduduk sipil yang menjadi korban serta banyaknya serdadu AS yang gugur atau menderita luka-luka di kawasan tersebut, bisa jadi pendapat umum di AS dapat berbalik menyalahkan Presiden tersebut. Dan kemungkinan untuk itu tampaknya cukup besar, karena Saddam Husein menarik pasukan-pasukannya ke kawasan perkotaan, yang berarti akan jatuh lebih banyak korban, apalagi kalau ia berhasil menggerakkan perlawanan gerilya kota terhadap serangan AS. Sementara itu, bagi kaum muslimin di seluruh dunia, serangan dan pemboman itu akan menimbulkan kemarahan luar biasa terhadap Pemerintah AS sendiri. Karena ketidakberdayaan menghentikan serangan dan pemboman itu, dengan sendirinya peradaban yang melahirkannya yaitu peradaban Barat, ditolak sebagai mitra peradaban Islam ke arah kemajuan. Dengan demikian, kemelut psikologis yang menghinggapi diri kaum muslimin di seluruh dunia, akan semakin menjadi-jadi, minimal bagi para warga gerakan-gerakan Islam. Sikap keras sebagian mereka, dengan sendirinya semakin sulit untuk dilerai, dan perlawanan gila-gilaan seperti bom bunuh diri di Israel-Palestina akan semakin banyak. Kalaupun tidak bertambah jumlahnya, reaksi psikologis yang menghinggapi para warga gerakan-gerakan Islam itu akan menjadi keras dan bertambah kompleks. Apalagi ditambah dengan sikap Perdana Menteri Ariel Sharon dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Jenderal Allon yang semakin keras terhadap kaum pejuang Palestina, maka rasa tidak berdaya itu akan berubah secara kualitatif dan kuantitatif menjadi kebencian semakin besar terhadap “peradaban Barat”.

*****

Bagi Indonesia, atau lebih tepatnya bagi gerakan-gerakan Islam moderat di negeri ini, tantangan yang dihadapi juga akan semakin besar. Di tengah-tengah sikap moderat kebanyakan kaum muslimin di negeri ini, terdapat kelompok-kelompok “muslim garis keras” yang tentu saja akan merasakan tekanan-tekanan psikologis yang dirasakan kaum muslimin di seluruh dunia sebagai akibat dari serangan dan pemboman AS atas Irak itu. Rasa tidak berdaya itu tentu akan membawa akibat-akibatnya sendiri yang serius bagi keadaan umat manusia dewasa ini, yaitu membuat lebih tipis keinginan mencari langkah-langkah akomodatif antara peradaban Islam dan peradaban-peradaban lain.

Rasa tidak berdaya itu, tentu lebih terasa di kalangan kaum muda dan kaum miskin perkotaan (urban poor), suatu hal yang sama sekali tidak dilihat oleh Presiden George Bush Jr, yang sudah dapat diperkirakan sebelumnya, dari kualitas pertimbangan-pertimbangan geopolitis yang digunakan olehnya. Di sinilah sebenarnya terletak pangkal masalah yang dihadapi umat manusia dewasa ini.

Di satu pihak, negara-negara yang berindustri maju, sering disebut sebagai negara-negara makmur (affluent countries), tidak penah menyadari parahnya keadaan di negara-negara berkembang dan lebarnya kesenjangan antara kaum kaya dan miskin di kawasan-kawasan tersebut. Memang, meski peperangan terhadap terorisme internasional dan penegakan demokrasi telah dilakukan, tetapi AS bukanlah contoh yang baik tentang bagaimana upaya menegakkan demokrasi dan menghilangkan kesenjangan kaya-miskin serta pembelaan terhadap negara-negara berkembang yang lemah. Bahkan, AS sendiri lebih sering dianggap sebagai pendukung para penguasa lalim di seluruh dunia. Kalau demikian, berhakkah dia berbicara tentang moral dan etika? Padahal perjuangan melawan terorisme internasional dan domestik, haruslah didasarkan pada acuan moral dan etika. Karena, banyak yang mempertanyakan hak AS untuk memberantas terorisme internasional, yang akan membunuh sangat banyak penduduk sipil yang dibom dan diserang dengan sebuah keputusan yang bersifat unilateral.

Dengan dasar etis dan moral yang masih dipertanyakan, herankah kita jika banyak kaum muslimin lalu mengambil sikap mempertanyakan sendi-sendi peradaban yang tidak seimbang antara yang terjadi dengan yang dibawakan AS sebagai negara adikuasa dan negara-negara berteknologi maju? Karena tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup, herankah jika mereka melihat sikap moderat mayoritas kaum muslimin, sebagai langkah menyerah bulat pada peradaban sekuler yang melahirkan arogansi sikap itu? Sikap Presiden Bush itu membebani kaum muslimin moderat dengan tugas yang tidak ringan, yaitu mengatasi sikap utopis di kalangan kaum “muslimin garis keras”. Adilkah yang demikian itu?