Peranan Para Pendahulu

Sumber foto: https://muslimvillage.com/2011/08/22/13150/australian-islamic-peak-body-questioned-over-relationship-with-leading-islamic-school/

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid

DALAM kunjungan penulis ke Australia, penulis mampir juga ke Melbourne. Di sini penulis dijamu oleh Wali Kota Melbourne dan Gubernur Victoria. Tetapi, yang lebih penting adalah kunjungan penulis ke sebuah kota satelit sekitar 25 kilometer dari kota Melbourne. Kota satelit itu penuh dengan orang Turki yang memiliki sebuah sekolah cukup besar yang menampung para pelajar tanpa membeda-bedakan asal-usul mereka. Di sekolah yang cukup baik perawatannya itu, diberikan pelajaran sesuai kurikulum yang ada, yang dalam bahasa salah seorang pemimpin komunitas Turki disebut ilmu pengetahuan duniawi. Kurikulum “materialistik” seperti itu ditambah dengan orientasi akhlak ajaran-ajaran Islam. Sehingga campuran antara ‘hal-hal duniawi’ yang ada dalam kurikulum pemerintah, digabung dengan sebuah mata pelajaran keislaman, seperti pengertian yang benar tentang Islam. Perpaduan antara mata pelajaran ‘materialistik dan studi keislaman yang didukung akhlak — mencerminkan keyakinan agama — menjadi sebuah kurikulum lokal.

Dipimpin oleh Fathullah M. Gulen dengan teori-teori pendidikan dari Said Nursi, sekarang ini sekolah dengan kurikulum kombinasi tadi merupakan usaha pendidikan paling besar di Turki, di luar sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh sekolah negeri. Nah, dengan demikian Gulen dan Nursi mencoba mengkombinasikan yang lama dan yang baru dalam sebuah sistem sekolah yang menghasilkan ‘muslim baru’ yang masih menghormati dan melaksanakan ajaran-ajaran Islam, tetapi mengembangkan kemampuan untuk menguasai ‘dunia modern’.

Di banyak tempat, jaringan yang diciptakan oleh kedua tokoh itu itu lambat laun menjadi kekuatan tersendiri. Sangat menarik ucapan Nursi, “Kita tidak perlu mendirikan negara Islam, tetapi yang lebih penting adalah menciptakan kaum muslimin yang menemukan perlunya teknologi dan pengetahuan kebendaan yang sangat modern, digabungkan dengan akhlak seorang muslim yang benar.” Kalau dilihat, yang dikemukakan dan dilakukan Nursi dan Gulen itu sama dengan upaya yang dilakukan di tanah air kita.

Adalah mengharukan mengunjungi sekolah-sekolah seperti yang didirikan oleh komunitas Turki di Negara Kanguru, karena ternyata mereka telah menemukan cara yang terbaik untuk membuat anak didik tidak keluar dari sistem pendidikan yang ada, tetapi juga berhasil mengarahkan anak didik kepada moralitas Islam yang akan memberikan warna tersendiri dalam kepribadian mereka. Karenanya, pendidikan Nursi dan Gulen yang sekarang sudah merupakan jaringan tersendiri dengan jutaan orang anak didik di Turki dan ratusan ribu di berbagai negeri lain, merupakan sesuatu yang harus diperhatikan, diamati secara mendalam, terutama untuk menjawab pertanyaan: Apakah yang harus dilakukan kaum muslimin di luar upaya mendirikan negara Islam di zaman modern in? Jawaban Nursi-Gulen di Turki itu dan kerja-kerja pendidikan yang sama di negeri kita, menunjukkan kesungguhan masyarakat muslim di kedua negeri untuk menjawab tantangan modernitas.

Ketika penulis mengunjungi sebuah sekolah seperti itu, bernama Sule College (Cahaya Gemilang) di Prestons, sebuah suburbia di Sydney Australia, penulis ditanyai oleh seorang siswa, “Bagaimanakah pandangan Anda tentang dialog antar agama-agama yang ada, juga dalam kurikulum kami?” Penulis menjawab dengan mengatakan bahwa kalau kita memiliki moralitas yang benar dan menjadi muslim yang melaksanakan ajaran Islam, dengan sendirinya akan menghargai ajaran-ajaran agama lain. Padahal inilah sebenarnya yang merupakan topangan bagi dialog dan hubungan antar agama yang benar. Sudah sewajarnya diteruskan jika upaya itu untuk mempertahankan nilai-nilai luhur dalam agama Islam. Itulah yang akan menjadi respon umat Islam terhadap tantangan materialisme di alam modern ini, yang membawakan sikap mementingkan kenikmatan pribadi dengan mengorbankan kepentingan umum. Dengan demikian, upaya Nursi dan Gulen, dan upaya para pendidik di negeri kita walaupun tidak membuat teori dari aktivitas mereka, akan menjadi jawaban bagi kau muslimin.

Dalam kunjungan di sebuah suburbia Melbourne, penulis berbincang-bincang dengan ketua yayasan komunitas Turki yang berada di situ, yang berumur sekitar 70-an tahun. Pak Mustafa namanya, datang ke Australia pada usia 20-an tahun setelah perang dunia kedua, bersama-sama dengan sekian ratus imigran lain dari berbagai penjuru dunia. Ketika ia kemudian melihat catatan-catatan penduduk Australia baru yang berasal dari berbagai negara, ia dapati dalam daftar tersebut nama-nama seperti Ali dan Muhammad. Ia cari orang-orang itu, karena ia tahu dari nama-nama mereka bahwa pemilik kesemuanya itu adalah orang-orang Islam. Ketika ia berhasil mencari mereka, ia malahan mendapati bahwa sekian orang dari rombongan itu adalah orang-orang Turki. Ia pun sering menemui mereka kalau sedang tidak bekerja. Dan kemudian, anak-anak muda Turki itu, pergi ke sebuah masjid di suburbia kota Darwin, terletak di sebelah utara Australia.

Karena mereka datang ke Australia sebelum Mustafa — sebagai penyelam mutiara dan menjadi bermata buta, dengan hanya seorang tua saja yang tidak — maka sebagai satu-satunya lelaki Turki di kawasan tersebut, akhirnya ia pun diangkat sebagai penjaga masjid. Ketika pertama kali Mustafa dan teman-teman datang ke masjid di pinggiran Darwin itu, ia dan kawan-kawan diserahi pekerjaan mengurusi masjid. Dikatakan orang tua itu kepada Mustafa, bahwa ia pernah bermimpi ada seseorang alim Turki memberitahukan kepadanya, hendaknya pengelolaan masjid tersebut diserahkan kepada sejumlah orang muda yang mendatangi kawasan itu. Dengan kepercayaan penuh akhirnya Mustafa memperoleh penugasan di atas, sesuai dengan impian pendahulu.

Dengan demikian terjadilah perpindahan kewajiban mengelola masjid dari generasi terdahulu kepada generasi Mustafa. Ketika penulis tanya, Mustafa menjawab bahwa ia selama 20 tahun berada di Darwin dan disamping bekerja sehari-hari dengan menjadi pedagang kecil-kecilan, ia mengelola masjid tersebut bersama kawan-kawannya. Akhirnya, ia pun harus berpindah ke Melbourne di negara bagian Victoria. Di tempat itulah ia kemudian berkecimpung dalam sebuah komunitas orang-orang Turki yang cukup besar jumlahnya. Karena melihat kejujurannya dan kerja kerasnya, maka iapun diangkat menjadi ketua yayasan pendidikan di kawasan tersebut. Dalam posisi inilah penulis bertemu dengan Mustafa. Perjuangan seperti yang diperlihatkannya menunjukkan kepada penulis betapa penting arti sebuah elan (semangat) berjuang dan juga pentingnya arti peranan para pendahulu.

Dari apa yang diuraikan di atas, terlihat bahwa tradisi mengabdi masyarakat dapat saja dipindahkan ke tempat lain dan ditularkan kepada generasi-generasi berikut. Di sini berperan apa yang dinamakan trust (kepercayaan) antar generasi. Generasi Mustafa percaya bahwa angkatan sebelum mereka tentu bermaksud baik dengan tindakan pindah mencari hidup ke benua Australia, sedangkan generasi para sesepuh itu percaya bahwa Mustafa dan teman-teman akan meneruskan kiprah mereka. Keyakinan bahwa kebenaran yang diperjuangkan sebuah kelompok, tentu akan dilanjutkan generasi berikutnya. Keyakinan seperti inilah yang mendorong para tokoh itu untuk tetap berkiprah dan mengatasi segala macam kesulitan hidup, disertai ‘pengertian’ akan adanya perubahan-perubahan dari satu ke lain generasi. Inilah dasar dari sikap para sesepuh itu kepada generasi Mustafa untuk mengelola masjid, membuat perjuangan dapat berlangsung terus dari generasi ke generasi, dan perubahan untuk keluar dari apa yang mereka lakukan.

Ini pulalah yang membuat kaum kiai sarungan, umpamanya, percaya kepada penulis dan generasinya yang semuanya sudah berbaju kebarat-baratan walaupun sudah ada perubahan bentuk luar dengan tetap mempertahankan esensi perjuangan yang dilakukan. Sikap tetap mempertahankan kepercayaan antar-generasional tersebut membuat perjuangan kita akan tetap berlangsung. Dan tujuan perjuangan yang membuat kita menghargai dan meneruskan perjuangan kaum tua dan memperkuat berbagai hal untuk mengingat jasa-jasa mereka yang terdahulu. Ini adalah bagian dari langkah-langkah melestarikan dan membuang yang ada dalam sejarah manusia, bukan?