Sang Romo, Rumah dan Bambu

foto: Tektanika https://tektan.tumblr.com/post/62902420945/perjalanan-1-rumah-arief-budiman-salatiga

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid

Lokakarya Teknologi tepat bagi Pedesaan. Begitulah bunyi undangan LP3ES, direncanakan untuk 18-20 Desember 1975. Bertempat di Yogyakarta. Membingungkan juga istilah itu. Maklum, sebagai orang pesantren belum tahu bedanya teknologi yang tepat dan yang tak tepat. Sedang arti teknologi itu belum dimengerti sepenuhnya (apa sudah benar ditulis “teknologi” dan bukannya “tehnologi” dengan huruf “h”, seperti diucapkan sementara kawan orang Periangan?). tapi, dasar orang pesantren, mengerti tidak mengerti, toh, berangkat juga. Karena ada kata teknologi dan ada kata pedesaan, anjuran bikin paper dari penyelenggara dilaksanakan dalam bentuk laporan model kampungan. Paper tentang sebuah koperasi pengelasan besi yang menggunakan ubub sebagai pemanas, alias koperasi pandai besi, yang dapat membuat kerangka sepeda, jam, laras senapan angin, dan sebagainya. Mudah-mudahan sesuai dengan maksud kata teknologi tepat itu. Ternyata, cocok. Itu pabrik-pabrik raksasa dengan produksi barang konsumsi mewah justru tidak tepat bagi negara yang sedang berkembang, O, begitu?

Ternyata, peserta lokakarya cukup unik juga. Dari yang kerempeng sampai yang gembrot, dari yang pendek sampai yang jangkung, dari yang senang bercanda sampai yang selalu serius, dari yang hitam legam (tapi masih stok Melayu) hingga orang bule yang selalu kegerahan di negeri panas ini. Tapi, yang lebih unik adalah papers yang mereka laporkan. Ada orang pesantren yang bergulat dengan tantangan istimewa: bagaimana menumbuhkan pisang yang berbuah sama besar ujung, tengah dan pangkalnya. Herannya, berhasil juga orang itu membuat buah pisang yang berdiameter sama pucuk dan bongkotnya. Caranya, potong ujungnya sewaktu masih dalam “jantung pisang”.

Ada insinyur muda yang siang-malam memikirkan cara menghancurkan kotoran manusia alias tinja, agar berubah menguap menjadi gas metana untuk berbagai keperluan pembakaran. Kuman pemenang itu akan mencernakan dan mengubah si tinja menjadi gas. Hebat juga kuman pemenang ini. Jadi juara sendiri, tidak mau terima menjadi juara bersama, seperti Persija dan PSMS tahun ini (eh salah, tahun lalu). Cara memperoleh gas pembakar ini sangat sederhana, walau perlu dibuat serem dengan nama asing : digestor. Padahal, ia hanyalah jamban biasa plus tempat penyimpanan tinja yang diatur jangan berisi terlalu banyak air dan kemasukan barang-barang keras. Walaupun empuk juga, antibiotika tidak boleh masuk septic tank (sapiteng, kata orang sini), karena kan membunuh semua kuman. Entah para penggemar jamu manjur cap Air Mancur, boleh tidaknya menyimpan produk mereka dalam digestor.

Peserta lain ada yang membawa contoh konkret dari proyeknya: membuat kakus murah. Alhamdulillah, badan-badan asing, seperti CARE, mau membuatkan desain kakus murah itu untuk kita. walaupun masih menjadi pertanyaan, apakah kelompok yang hendak ditinaju dengan proyek ini mau meninggalkan kakus mereka  yang lebih murah lagi: kebun di belakang rumah, pinggiran sungai, dan sebagainya.

Tapi, yang paling mengesankan adalah perkenalan dengan tiga orang peserta. Seorang pendeta, seorang insinyur PUTL, yang tidak mau proyeknya diinpreskan cepat-cepat, dan seorang seniman desain paling orisinil yang tidak mau menjadi miliuner dari keterampilan yang dimilikinya.

Sang insunyur adalah Ir. Suwarno dari pusat Informasi Bangunan di Yogyakarta. Idenya adalah proyek bantuan 25.000 rumah bagi tiap penduduk pedesaan yang ingin membuat atau merenovasi rumahnya. Imbalannya adalah kesediaan si penduduk untuk membuat rumahnya menurut bestek dan petunjuk proyek. Bantuan diberikan dalam bentuk rangka jendela, genting kaca, kakus rumah, sekat untuk membuat ruangan dalam rumah, tujuannya dalah membuat rumah sederhana dengan sanitasi, ventilasi, dan penerangan yang cukup baik dan sehat. Ide mulia ini menyentuh hati, justru karena ini kontras sangat menolok dengan rumah-rumah berharga satu juta rupiah ke atas yang belakangan ini sering dipropagandakan, yang jelas berada di luar jangkauan mayoritas penduduk negara ini. Rupanya kontras ini diakui juga adanya oleh pemerintah. Karena dalam pengantar RAPBN 1976, Presiden Soekarno juga menyebutkan adanya pos anggaran untuk rumah sederhana.

Sang seniman adalah desainer tenunan bambu dari Pekalongan, Pak Kadir Muhammad atau yang lebih popular dipanggil Kadir Ridaka. Seluruh hidupnya yang tua kini dicurahkan pada upaya bagaimana menenun bambu hingga menjadi kain indah dengan aneka ragam desain. Dasi dari bambu, kain sarung, dan sapu tangan dari bambu, apalagi meubelair yang dibuat begitu praktis dengan sistem bongkar pasang yang sangat mudah dan memakan waktu hanya beberapa menit. Ada yang khawatir seniman satu ini akan mampu membuat kereta api bambu yang dapat dibongkar pasang dan diringkas dalam sebuah dos karton. Kalau mau pergi, tinggal ke stasiun dan memasang kereta apinya sendiri disana. Bisa pusing kepala stasiun. Begitu gandrungnya sang seniman ini dengan kerja menenun bambu dengan ATBM-nya yang terbuat dari bambu juga, hingga ia tidak tertarik pada tawaran kredit ratusan juta rupiah untuk memproduksi karya-karya bambunya secara massal. Itu urusan orang lain. Ia sudah puas dengan menciptakan desain baru dan cara-cara lebih praktis utnuk memanfaatkan bambu dalam kehidupan sehari-hari.

Sang pastor adalah Romeo J.B. Mangunwijaya, Kolumnis Kompas, dosen arsitektur di Gadjah Mada. “punya” gereja di Jetis, Yogyakarta. Sulit dibayangkan bagaimana ia mengenakan pakaian dinasnya. Rambut hingga sampai ke bahu, pakaian jeans (walaupun tidak blue), dan gaya orang muda. Romo yang satu ini bergulat dengan kerja membuat rumah model perkampungan tingkat bawah di kota-kota besar atau tingkat menengah-bawah (kalau mau menggunakan klasifikasinya para pabrikan mobil di Detroit). Model yang di pertontonkan adalah sebuah rangka rumah kayu dibangun secara panggung. Dengan lantai kayu atau bambu, tidak perlu lagi menggunakan tempat tidur dan meja-kursi. Tinggal mengatur tinggi rendahnya lantai dan dihamparkan tikar rotan atau plastik. Dinding dan atap masih menjadi persoalan: bagaimana membuat yang sederhana, tetapi cukup memenuhi persyaratan arsitektural, cukup menahan air, dan terpelihara keamanannya? Sementara itu, digunakan pintalan sabut lapis dua dengan selembar plastik di tengah sebagai atap. Mengapa tidak menggunakan genting dan batu bata? Komentar sang romo: “pemerintah menganjurkan dikuranginyan pemakaian kayu untuk bangunan”. Lantas genting dan batu merah itu membakarnya memakai apa umumnya? Toh, kayu juga. Apa tidak lebih baik kayu pembakar itu dimanfaatkan dalam pembuatan rumah murah yang benar-benar murah? Disinilah terletak tantangan bagi teknologi tepat untuk menyediakan bahan-bahan murah dan mudah didapat guna diolah menjadi produk artistik yang sesuai dengan selera orang masa kini.

Obsesi sang romo yang satu ini, dengan proyek rumah kayu panggungnya, bersumber pada kesimpulannya tentang pengaruh besar dari pola selera (dengan sendirinya pola konsumsi sumber-sumber alam yang semakin langka) dari penduduk “kampung” di kota-kota besar atas pembentukan selera mayoritas  penduduk pedesaan. Kalau penduduk gang sempit di kota dapat diyakinkan akan murahnya membuat rumah panggung kayu sebagai tempat tinggal yang baik dan kuat, tidakkah ini akan menghilangkan kecenderungan semakin meluas untuk membangun rumah batu ala kota di pedesaan?.

Tidak heranlah jika ketiga manusia di atas menjadi saling memerlukan. Sang insinyur dengan rumah sederhananya, sang seniman dengan percobaan desain tenunan bambunya, dan sang romo cum arsitek yang gila pada rumah panggung dari kayu (yang pada dirinya merupakan penggalian warisan budaya bangsa yang telah teruji sekian lama). Tak heran jika kemudian sang romo tertarik pada kemungkinan menggunakan tenunan bambu bagi dinding rumah kayunya, asal dapat dibuat menjadi kuat dengan desain menarik. Begitu pula sang seniman cum desainer, lalau terbenam dalam kemungkinan penggunaan bambu semaksimal dan spraktis mungkin dalam model rumah seperti itu. Harus dipikirkan pengawetan bambunya dalam kuantitas besar-besaran, apalagi untuk membuat atap yang tahan air. Begitulah kira-kira, bayangan tentang teknologi tepat yang diperoleh dari lokakarya. Teknologi praktis berukuran kecil dengan kegunaan penuh bagi perbaikan kehidupan di pedesaan. Kalau teknologi ini kemudian hari mampu menyaingi teknologi serbamasinal dengan produksi barang mewahnya yang tak terjangkau oleh mayoritas bangsa, akan terbuktilah bahwa yang kecil pun dapat mengendalikan yang besar. Kalau tidak berhasil menyaingi, setidak-tidaknya akan mengingatkan kita pada pentingnya menegakkan prioritas produksi yang tidak merusak keseimbangan sumber-sumber alam. Tidakkah ia pantas dinamai teknologi tepat?