Tabayyun Gus Dur Pasca Muktamar NU 29 Cipasung 1994 Paling Menegangkan, Di Ponpes Langitan Tuban 1996

Sumber Foto: Facebook, Kisah Ulama Dan Sejarah Nusantara

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid

Gus Dur:

itu itu kan di luar NU, itu di luar NU. Apakah reaksi kedua fraksi, ataupun adanya tandingan itu di luar NU. Itu proyek luar yang diteroboskan masuk ke kita,  mungkin sudah bisa masuk pagar, pekarangan ya, eh belum bisa masuk pintu. Nah, selama itu ya belum di rumah kan, sudah anggap aja enggak ada.

Penanya:

Biar sekarang, dari mana Sukabumi? biar lebih mantap jadi orang Jawa Barat ya. Begini, antara lain buktinya Jawa Barat ini menjadi benteng gitu dari PBNU ini. Ini ada surat yang ditujukan kepada bapak Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, yang ditulis 20 Januari 1996. Masih baru, masih sangat baru hanya intervensi dan desakan beberapa aparat keamanan terhadap PCNU dan PCGP Ansor di Jawa Barat. Wah ini berani betul Jabar nulis ke Panglima. Nah, intinya antara lain ya sehubungan dengan kegiatan dan gerakan KPPNU Abu Hasan, perkenankan kami menyampaikan informasi, tanggapan dan sekaligus mohon konfirmasi atas hal-hal sebagai berikut yaitu:

Berdasarkan laporan yang masuk kepada kami melalui pembicaraan telepon maupun langsung (bertatap muka) dapat disimpulkan dan diyakini adanya intervensi ajakan, dorongan, desakan dan bantuan yang dilakukan beberapa oknum apparat keamanan/ABI di beberapa daerah tingkat dua Jawa Barat. Terhadap beberapa pengurus cabang, pengurus cabang Ansor agar bisa hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan silaturahmi konferensi besar Muktamar dan seterusnya. Lalu macam-macamlah intinya ini ya. Pada sisi lain kami mendapatkan penegasan yang melegakan dari Mendagri, Menhankam, Kapolri, Mabespolri, KSAD dan Menteri Agama yang secara jelas dan tegas mengakui keabsan hasil muktamar.  Nah ini, lalu enggak tanggung-tanggung tembusannya mulai dari Menkopolkam, MenHankam, Mendagri, Menteri Agama, pimpinan MPR, DPR, terus sampai pengurus cabang se Jawa Barat. Nah ini kan bukan main ini.

Kemudian yang kedua, wilayah Jawa Barat (apa namanya) diterima oleh Gubernur Jawa Barat beberapa hari yang lalu. Nah yang isinya justru gubernurnya yang kaget ini, kaget begini kok Jawa Barat menjadi pepeletekan. Ya pepeletekan bahasa Sundanya, jadi papaleteka, papaletekan jadi kayak mercon, kayak petasan itu, wah. Nah itu bikin kaget-kaget gitu. Yang biasanya adem ayem, tenang nah gitu. Kemudia banyak pejabat menjadi kaget, ini kok Jawa Barat menjadi kayak ekstrim begini kan gitu. Kemudian dipotong oleh Kiai Abas, Kia Abdul Abas dari Cirebon bahwa kalau begitu biarlah Jawa Barat antara ulama dan umaro itu kita tetap bersatu bagus, kalau di pusat biarlah diurus oleh orang Jakarta. Jadi Jawa Barat enggak usah ikut-ikutanlah ngurus-ngurus di pusat. Nah ini kan tujuannya ke pusat sebenarnya, Gubernur tadi sindirannya. Nah karena itu terus langsung yang dibahas program-program bagaimana ini di pesantren diteruskan dan sebagainya itu. Jadi kelihatannya itu di Jawa Barat yang tadinya adem ayem ternyata juga  bisa panas gitu. Tapi yang terkendali panas setelah ini ayem lagi, setelah didatangin Pak Dur dua kali ke Jawa Barat tiba-tiba Ayem lagi. Tapi kalau yang datang yang lain mungkin panas lagi kan. Ada lagi silakan.

Gus Dur:

Saya tidak apal urutanya dan mudah-mudahan tidak ada yang hilang poin yang ditanyakan. Saya mau jawab secara apa yang ingat aja dah. Nomor satu mengenai Megawati apakah itu pelarian?. Pertama perlu saya jelaskan Matori Abdul Djalil bukan calon saya. Sebab NU tidak punya urusan dengan PPP, PPP mau masang siapa kek itu bukan urusan saya. Kenapa, lalu ada kesan saya yang mencalonkan itu kepintaran pr-nya  Matori aja sendiri. Seluruh manajemen hadapannya dia dengan Bu yai Ismail itu mereknya lain dengan merek kalau saya yang ngatur, kalau saya ngatur pasti menang. Karena, untuk itu harus ada bargain, bargain dengan pihak paling menentukan di negeri ini. Itu yang tidak dilakukan pak Matori gitu, Jadi, jadi ya terus terang aja itu semua salah Kesan. Sehingga gak perlu ada pelarian dari sana. Lalu saya ngritik yang ada lo ya, saya wajib ngritik. Karena orang NU maju menghadapi orang NI, itu kalau kalah masa ya terus kita ikut sorakin sekalian, kan engak. Kan harus kita tunjukkan simpati, karena Matori itu ya, walaupun bukan calon saya dan bukan apa Namanya, eh saya tidak ikut mengelola manajemen apa konfliknya. Tetapi saya melihat ada satu hal yang penting di dalamnya, ada tradisi hidup berdemokrasi yang baik. Kalah ya ngaku kalah, kasih ucapan selamat dan berjanji tidak akan merongrong dan kesetiaannya kepada partai. Ini yang paling jarang ada kan di Indonesia hamper, gak ada selama ini. Golkar aja gak bisa begitu, mesti terus yang kalah ngongrong. Nah ini, Matori nyatanya memenuhi janjinya begitu dia goal dibikin acara sendiri, sampai sekarang dibikin KPK itu. Ya jadi itu, jadi gak perlu ada pelepasan bagi saya.

lalu Mbak itu kenapa, oh itu soalnya soal alasan-alasan pribadi aja kok, enggak ada urusannya dengan NU. Belum pernah kita di NU itu merundingkan akan bergaul erat dengan Mega, akan mendukung PDI. Tanya pak Rozi deh ada enggak catatannya itu, enggak ada saya enggak pernah. Urusan Mbak Mega itu urusan saya pribadi dengan Megawati tidak dengan PDI. Makanya saya juga enggak pernah ikut campur, enggak pernah mengontari soal intern PDI itu urusan dia. Urusan dia pun saya batasi hanya orientasinya saja. Saya tidak ikut apa itu Namanya, apa itu tetekbengek ari seluruh sepak terjang dia di PDI maupun secara nasional ya. Ya itu enggak mungkin saya lakukan karena memang, kita sudah punya tugas yang berbeda kok dia di bidang politik saya non politis, jadi sudah berbeda. Tetapi ada satu persamaan, persamaannya adalah kita berdua menginginkan independensi tempat masing-masing dari katakanlah campur tangan luar. dengan cara-cara yang baik, cara-cara yang sopan gitu ya. Jadi kita melakukan dengan cara yang sopan tidak main keras tidak main ini ya, cukup sebagai contoh yang baik. Kasih contoh deh, sekarang terbukti kan setelah dia dicoba dijepret, di sudutkan dengan proyek satu juta formulir yang saya yakin itu bukan buatan dia. Enggak tahu urusannya dengan itu, coba anda lihat aja deh. Komentar sepatah pun enggak, itu adalah protes yang tertinggi dari seorang yang merasa di injak-injak haknya, protes dengan berdiam diri.  Nah ini loh maksud saya, kenapa saya jadi dekat sama dia karena dia punya feeling tajam di bidang politik. Mana yang terbaik untuk untuk kelompoknya, untuk katakanlah Kalau bahasa agamanya umatnya, untuk warga PDI cara yang terbaik adalah diam. Nah ini yang menarik saya ada kualitas-kualitas tertentu pada kepemimpinannya, yang membuat saya melihat dia mempunyai kemampuan kepemimpinan yang besar di kemudian hari.

Nah, ya seperti halnya matori dia punya kemampuan yang untuk menjadi pemimpin yang besar di kemudian hari ya wajib saya bantu. Terlepas dari saya enggak ikut-ikut gitu loh, apa yang dia lakukan. Di KPK ini juga saya enggak ikut-ikut, jangan disangka saya ikut. Masukin Kiai Kholil Bisri ke situ, masukin pak Ghafar Rahman ke situ, itu saya enggak tahu. Enggak ikut nggodok, saya malah justru yang tadinya ditawari di KPK untuk jadi Ketua Umum saya menghindar, Ketua Dewan Pertimbangan saya menghindar. Akhirnya Alhamdulillah saya enggak ikut-ikut, nah ternyata pak matori yang muncul, ya Silakan. Cari orang juga, ya saya tidak akan mengatakan tidak, siapapun yang dia calonkan karena itu urusan dia kok. Nah jadi inilah ya, jadi supaya bisa dipahami itu tentang hal itu

Lalu, apakah nanti NU akan mendukung PDI, loh emangnya NU enggak punya sikap sendiri. Harus menolak atau menerima PDI, kalau begitu kenapa kita tidak bisa berbuat yang sama kepada PPP dan Golkar. Kalau mau adil ya harus begitu, tapi kita sudah memutuskan tidak ikut-ikut, berarti ke PDI pun kita tidak ikut-ikut. Kalau nanti warga NU secara besar-besaran ikut ke PDI, itu ya masalahnya memang sudah waktunya begitu. Jangan disangka karena kita yang nyuruh, bukan. Karena kita bukan kita yang menyuruh, bukan. Itu ada faktor X ya, yang kenapa kalau bukan warga NU berduyun-duyun ke PDI kita enggak disalahkan gitu. Kenapa kita enggak disalahkan, kenapa kalau warga kita disalahkan, seolah-olah kita yang nyuruh. Apa sih bedanya warga NU dengan yang tidak Nu. Kalau bosan dengan sistem ini kan, semua sudah bosan. Kalau mereka melihat sesuatu yang segar di PDI, yang bagi saya itu cuma ilusi aja sebetulnya. PDI kalau kuasa ya kayak Golkar juga ditempat itu. Antara warga NU dan non NU ya, yang memilih kan sama aja, semua itu. Jadi jangan karena anda pikir mereka ngikuti kita, perintah ikut itu. Itu Anda menghina warga NU itu dan di nu tidak ada satu ajakan yang sifatnya monoton itu enggak ada. Karena, semua orang itu ngajak sendiri-sendiri. Percuma aja ketua umumnya ngajak ke mana-mana kalau anak buahnya itu ngajaknya kanan kiri depan belakang, saya tahu persis itu karena itu saya enggak akan ngajak ke mana-mana.

Yang kedua mengenai masalah Abu Hasan, ya! kenapa kok tidak mau Islah. Siapa bilang saya tidak mau Islah. Kita mau Islah, dasarnya apa? dasarnya adalah hasil muktamar Cipasung. Artinya apa? pengurus harian gak bisa dirubah, kalau mau berubah boleh, nambahi plenonya. mau jadi ditambah mustasyar silakan, tokoh terhormat itu Pak Idam, pak Abu Pak Yusuf Hasyim biarin itu tu.  Sudah setelah bai’at pergi sendiri-sendiri, enggak pernah ketemu itu soal lain. NU dari dulu sudah biasa begitu kok. Karena apa, Karena keputusan Muktamar itu merupakan sebuah mekanisme yang organisaturis harus dibakukan. Kalau tiap orang nuntut kita turutin Sampai kapan kita berat. Kenapa saya tidak mau menerima, karena melihat kelakuannya semasa pra-Muktamar sampai Muktamar, loh! orang NU kok main uang itu loh. Bayarin capabang-capang, terus NU mau jadi apa?. Maaf NU itu beda dari yang lain-lain ya!, itu karena NU selama ini tidak pernah pakai uang. NU ya bertanding terbuka di arena, kayak orang adu tinju begitu lalu terus beramai-ramai diputuskan jurinya banyak itu aja mana yang menang ya. lalu tadi ada pertanyaan “Kenapa kok jumlahnya Hampir sama, kok enggak di diterima aja” loh memangnya harus ada keharusan, harus ada begitu?.

Kalau begitu kenapa PPP dan PDI tidak diwakili dalam Kabinet. Padahal mereka memperoleh suara sekian puluh persen dari para pemilih. Dianggap pak harto kan dipilih oleh semua pihak, nah perwujudan dari dipilih semua pihak itu mestinya pembantunya diatur proporsional kan. Kok tidak!. Alangkah tidak adilnya ketika semua menteri harus Golkar. Lalu di NU semua pengurus itu tidak pakai pihaknya Abu Hasan, diprotes. Itu kan standar ganda itu. Saya simpel saja masalahnya, kita harus pertahankan standar kebersihan proses pemilihan ketua dan pengurus. Di semua level di NU jangan sampai main beli-belian begitu. Yang ada aja kita sudah setengah mati pusingnya kok, ada faktor-faktor luar macam-macam, termasuk juga faktor-faktor para kiai yang lebih banyak ganggunya daripada berkahi gitu. loh kalau di tingkat PB enggak dibawa itu, ya begitu, dicabang-cabang dan sebagainya. Jadi marilah kita melihat ini secara kepala dingin dan secara objektif ya. Jadi jangan hanya karena ada suara dari luar begini-begini gitu.

Kemudian secara pribadi saya keberatan dengan Abu Hasan, dan keberatan saya itu ternyata sekarang baru ketahuan betulnya kan. Dia tidak pantas menjadi pemimpin, jangankan mau jadi wakil ketua umum dia mintanya tetep ketua umu, engak pantas!. Iya enggak pantas. lah bagaimana, masa membilangin wakil ra’isnya kiai Sohal, Sohal itu ringkikan kuda gimana coba. Dia nyebut pembantunya saudara Khosim, lah Khozin jadi Khosim, Khosim itu kan musuh. Mustofa Zuhad jadi Mustafa Jihad, orang zuhud itu kan yang wirid, orang jihad yang perang, ini terbalik. Dari sudut ini saja saya sudah menganggap dia simpleton, IQ-nya jongkok dibidang ini. Saya keberatan, saya punya punya ukuran sendiri gitu enggak boleh didikte orang lain, saya enggak mau. Dia enggak ngerti apa-apa tentang perjuangan, ya itu Mubarok, Mubarok itu pertandingan, bukan Mabarroh ya. Mabarot singularnya Mabaroh okelah kita ambil single-nya, ini enggak Mubarok artinya pertandingan. Mubarok quratul qadam itu, pertandingan sepak bola lihat aja majalah-majalah Arab itu. lah begini nanti kalau ada tamu dari dunia islam tuh kayak apa, itu loh ya.

Pernah di Jombang dia pidato waktu haulnya Mbah Kiai Hasbullah, ngasih bansal enggak, “Ini saya serahkan sebagai amal jahiliah saya” ampun itu!. Udah enggak cocok dah seleranya sudah lain. Dan pandangannya, pandangannya sekarang terbukti kebenaran dari keberatan saya itu “saudara Khosim, saudara ikut mana? Ulama apa pengusaha?”, “pengusaha Pak”, “Betul kalau ikut ulama melarat, pengusaha kaya”. Apa ini? di NU kok ada begini, itu apa!. Nadlatul Ulama kok lalu ulama direndahkan. Dia pakai ukuran Tunggal, mengenai dunia itu harus ada duit. Dia gak tahu bahwa Ulama itu kalau mau cari uang ya bisa aja, tapi banyak yang gak mau uang. Secukupnya saja untuk hidup dan perguruan, selebihnya dia mau ibadah. Jadi enggak memahami NU bagaimana? ya maaf aja dah, saya kalau untuk itu ya terus terang aja saya enggak setuju. Belum lagi akhlaknya, dia adalah penjudi saudara-saudara. Penjudi kalahnya itu main jutaan rupiah, saya tahu tempat-tempat di mana dia main judi, saya enggak mau tunjukkan, penjudi!. Berikutnya dia tidak tanggung jawab mencerminkan seorang kepala keluarga muslim, punya istri dengan anak ditinggal ke Amerika tanpa berita apa-apa. Sehingga akhirnya waktu kawin ribut soal walinya siapa, anak Perempuan. Di Amerika kawin dengan orang bule punya anak perempuan juga, dia pulang ke sini dia tinggal begitu aja. Sekarang ribut lagi soal perkawinannya bagimana. Lalu kawin lagi sama orang ketiga, ini apaan begini ini?.

Saya mau fair-fair saja, saya diam gak mau ngomong. Sebab saya tidak mau begini di muka umum ya, ini antar kita aja dah, harusnya sangat terbatas jangan dibawa kepada pers ya. Jangan dibawa kepada pers, saya gak mau merusak reputasi orang. Belum yang dikumpulin, yang dikumpuln itu dua macam: jujur tapi enggak tahu tempat, enggak tahu diri, atau ya memang bangsat. Tukang utang di daerah lari ke sini dia tampung karena dukung dia puji-puji dia segala macam. Bil’id NTB, Lamakhado Palu, Tengku Aziz Aceh, Syafi Zuman Lampung, Wahab Nasution Jambi itu orang-orang itu semua adalah petualang-petualang duit. Yang beginian itu dikumpulin, terus mau dimasukin di PB, paket itu isinya nanti orang-orang itu. Ini kita bicara yang memang sudah, orang yang memang jelek, sampah Masyarakat. Sampai Bil’id itu dilarang masuk kantor Pemda, saking seringnya nipu kanan kiri. Dia sampai sekarang ini masih jadi ketua pemda forki, pengurus daerah forki NTB, itu enggak pernah diterima menghadap di forki pusat. Itu saya selidiki semua, saya tahu  semua, ya memang kewajiban saya harus mencari informasi semacam itu, tapi tidak kita keluarkan. Pak Rozi juga baru dengar ini kan, soal penjudi ini kan. Sesama PB saya engak kasih tahu.

Nah yang lain tidak tahu diri, relatif jujurlah ya, bukan petualang ya, Kiai Hamid Baidlowi. Tapi orang itu tidak tahu tempat, pada usia 22 tahun, tahun 70 sekian itu dia mendampingi disuruh ikut mertuanya yaitu Kiai Bisri Mustofa (almarhum) Rembang ayahnya Mustofa Bisri, Kholil Bisri. Ketika itu mbah Kiai Bisri Syansuri sebagai Rais ‘Am dihadapkan dalam sebuah majelis, diundang oleh Kiai Maksum Lasem, guru beliau. Jadi beliau nurut datang itu karena guru beliau dan juga sebagian diakalin. Karena katanya Pak Idam mau datang pak Syakh Umar, itu semua orang yang dorong-dorong mbah Bisri berhadapan dengan Pak Subhan. Pembela Pak Subhan, Kia Bisri Mustofa Rembang lalu diadakan majelis tabayun untuk membahas masalah itu kemudian diadakan sidang k Bisri itu ngajak mantunya yang namanya Abdul Hamid Bisri apa namanyawi dari yang kemudian cerai dengan istrinya lalu di sana ngiringkan ya duduknya bareng mertua biasakan Nah setelah argumentasi kembang gak bisa bicara ini sudah sudah mutlak malah itu dulu zaman sayidina Umar itu Khalid bin Walid itu dipecat dan dia diam karena kalau dua orang pemimpin itu sama-sama keras umatnya rusak karena itu salah satunya harus mengalah Kenapa Bapak tidak mau ngalah jawabnya mbahisri simpel saja karena Subhan itu Khalid bin Walid dia yang harusah l itu kan namanya gak tahu diri di depan ulama Mbah Maksum waktu itu usianya 90 tahun Mbah BRI itu 80 tahun lah yang kayak gini ini itu.

waktu kita ribut rukyah kemarin dia bikin sajak tentang wajibnya rukyah Dikirim kepada Menteri Agama lebih dulu  diperiksakan kepada saya Saya bilang isi si soal argumentasi bisa betul sampean tapi cara ilmu arud ini keliru semua taktiknya enggak ngikuti ah-pahar yang ada jadi gak bisa dibaca gitu loh gak bisa dibaca karena keliru semua kan saya tulis saya kirimkan pulang l masih juga dikirim ke menteri agama itu kan menandakan bahwa dia itu merasa pintar sendiri gak mau nasatnya orang pokoknya W hasil itu begitu Kok kok minta diterima diserap Gu Jadi tetaplah menurut saya Ya jalan yang terik itu Ya kita cukut diam enggak usah jawab enggak usah apa Kalau dipaksa untuk apa itu namanya untuk Islah ya tadi itu boleh asal enggak ngerusak hasil muktamar cipasuk.

apa Kenapa Ma begitu makel mobil dan dia enggak pernah lepas dari mental itu sampai sekarang maaf ya maaf itu Gus Abdul Halim maftuhin adik sepupunya Kia atabik Gus atabik Ali menjelang Muktamar Cipasung pergi ke makamnya Kiai Ali Maksum di nongkelan dekat kapyak sepulang dari sana pamitan kepada buim buim itu Ibunya gusbik Ibu hasyimah apa jandanya Kia Ali Maksum pamitan apa katanya saya titip Gus Dur ya Kamu dukung ibunya aja enggak mau dukung dia gimana selesaan Masalahnya kalau sudah begitu ya apapun yang dibikin hanya karena uang saja bahkan ketika orang ngotot tentang dia ngotot macam-macam suatu ketika Gus Mustofa Bisri bilang Kapan sih Tabik jadi NU belum pernah tahu di pmi-nya belum pernah tahu di rantingnya di cabang nya kota-ot unangkring di awan PB atau di apa namanya ee mustasyar wilayah Ya itu dia gitu loh Sudahlah saya itu enggak mau itu semua jeleknya orang enggak usah kita bicarakan tapi karena anda nanya kenapa saya jawab selebihnya dari itu enggak usah Mari kita simpan aja De ya.

Nah, kemudian mengenai Pak Harto Kenapa tidak diterima oleh Pak Harto ya tersinggersinggung oleh ucapan saya dalam yang itu adalah istilahnyaonstri salah pahamnya si penulis tentang ucapan saya yaeluarkannya lagi juga keliru sekarang tergant Pak sudah saya jelaskan meluak pakar semua sudah ngerti semua ya dan Pak Harto sudah dengar terus pulang Kepada beliau nah diterima baik tidak diterima juga tidak kurang baiknya kurangik. Salah satu alas an mengapa kita itu merasa harus diterimakan takut reaksi di daerah terus terang aja cuma itu a takut kalau umat kita enggak kuat Diba ikut Pak Harto itu  enggak kuat takut kiai-kiai di daerah itu nanti eh kombinasi antara uluran tangan dan jepitan ya seperti itu nanti itu akan akan rontok Alhamdulillah saudara-saudara NU punya Daya tahan yang sangat  kuat beberapa wilayah jelas-jelasan kirim telepon ya kan mengatakan sudah enggak usah pusing-pusing biarkan itu Dan jangan mau Islah biar enggak diterima Pak Harto juga enggak usah masalah dan jangan minta ketemu lah enggak udah sampai kayak gitu itu malahnya orang di daerah-ara enggak usah khawatir deh dalam hal ini ya Jin aja Nah kalau diterima ya engak apa-apa kita wajib silaturahmi kok dan saya akan minta maaf karena memang saya menyinggung perasaannya terlepas dari materinya ya Saya akan minta maaf sana juga tahu begitu ya kita lihat aja nanti lalu apa yang yang akan kita lakukan engak usah melakukan apa-apa istilahnya Kiai Ilias rukyat kita sudah minta ketemu dua kali kita tidak usah mintama nah kalau ketiga kalinya sudah minta-minta kalau untuk PBNU ya ya kita sudah minta dua kali ya kita enggak usah minta-minta pernah ditanya saya di di depan Bupati oleh warga NU dalam pertemuan tanya jawab apa dengan warga NU di di Brebes di benda sirampok Pesantren alhikmah Kapan PPNU menunggu sampai kapan ini tidak Ditunggu tidak diterima Siden apa nunggu sampai beliau meninggal jawab saya menunggu sampai diterima jadi tentu dalam keadaan masih hidup itu aja ya.

Kemudian mengenai masalah apakah di bawah orang paham ya apakah ini Enggak tahu mana yang nanya ini tadi ya bukan bukan yang mengenai apa orang di bawah enggak anu gelisah karena enggak ngerti apa yang dimaksudkan ini segala macam Asalamualaikum segala macam itu loh saya katakan Siapa bilang orang bawah enggak ngerti mungkin satu-satu itemsnya itu dia enggak ngerti tapi secara keseluruhan pesan PBNU yang terbanyak Ya tentu saya membawakan karena langsung ke bawah itu diterima pesan apa sih pesan independeni pesan tanggung jawab tentang pemerintahan yang bersih pesan tanggung jawab menciptakan kesejahteraan dan keadilan pesan tanggung jawab tentang perlunya kita melakukan perubahan-perubahan mendasar dalam kehidupan kita termasuk hubungan antara agama dan sampai kok ya yaah segala macam itu nyampai kok Adapun mengenai masalah Asalamualaikum mereka juga paham itu cuma misesentasi saja dari pers sudah saya jelaskan berkali-kali di mana-mana gitu gak usah khaatir bahwa yang saya katakan mengenai Asalamualaikum itu kan begini dalam Islam norma-norma ituwujud dalam dua hal yang itu adalah peraturan atau hukum yang satu lagi adalah budaya atau tata krama nah Asalamualaikum lalu kita sering merubah yang budaya tapi memegang yangaturan ya hukum fikih kita pertahankan tapi yang tata krama yaitu akhlak bisa saja kita  rubah-rubah cium tangan dan tidak cium tangan itu kan enggak menyangkut hukum tata krama sekarang sudah banyak orang NU yang enggak mau cium tangan kepada ulama dan enggak apa-apa tetap NU aja kan enggak pakai PC ya tetap NU aja dan seterusnya dan seterusnya ya Nah lalu tetapi yang Tata Kerama ini itu sering apa tetapi ada hal yang tidak yang terkadang berfungsi tata krama kadang-kadang berfungsi aturan nah ini yang yang menjadi daerah batas ini yang suka menimbulkan kesulitan contohnya adalah Asalamualaikum dari sudut tata krama dia hanya sekedar sapaan nah ini di di di negeri-negeri muslim lain sapaan ini sudah diberlakukan sebagai Tata keramah bisa dirubah contohnya anda pergi ke alazhar pergi ke Makkah ke mana saja orang Arab tuh kalau anda bilang Asalamualaikum atau atau tidak sama saja salal anda ketika ketemu sabahal Kir masirahulahulir di sana enggak ada yang marah nah ini problem yang Tata kramah ini apa kita pertahankan apa kita rubah ini yang saya bilang itu Ya nanya Bukannya mengatakan harusah adapun yang aturan ya aturan namanya aturan enggak bisa namanya juga aturan contohnya Asalamualaikum di dalam salat salat itu definisinyaamaslim Nah itu bagaimana kita salat engak pakai itu tetapi kiai-kiai yang munafik dan gombal kayak sukon makmunang munafik dia sudah dengar kok dia sudah dengar penjelasan saya tapi ketika dia Kemukakan di muka umum dia katakan Nanti salat Kalau mengikuti kusur itu Selamat pagi S itu ulama semuanya itu ulama us cari duit cari pengaruh Kalau perlu memfitnah Orang saya terang-terangan aja gak pakai saya tutup-tutup ya Loh saya terangterangan a enggak usah repot-repot maka itu ketika mereka menganap Saya tidak akan aktif di NU enggak apa-apa NU enggak Rugi tanpa Anda malah mungkin untung seb tukang fitnahnya hilang dan sekarang mulai mengeluh kan sudah enggak dapat tempat di Masyarakat pelan-pelan akan luntur sendiri ya jadi jadi jadi demikianlah itu hal-hal itu ya jadi saya jelaskan sekali lagi bahwa bahwa saya mempunyai landasan untuk sikap saya tidak mau kompromi dalam hal-hal seperti itu tapi kalau kompromi untuk halhal lain Saya rasa enggak ada masalah Jadi itulah yang perlu saya jawabkan ya Ada lagi gak ada yang Yuk silakan memeliharatransparansi sikap dan memelihara konsistensi sikap itu saja dan ini transparan karena kita Jelaskan ke bawah jadi kita harus menjelaskan juga memang enggak bisa dibiarkan begitu saja bahwa kalau ada orang PMI cipusat enggak paham ya itu tidak berarti warga NU juga tidak semuanya tidak paham ya tidak itu hanya kebetulan belum belum belum bisa dicapai dijangkau itu sa karena memang kita seharusnya mengutamakan bidang penerbitan ya.