Mereka Ingin Bebas

Sumber Foto: https://tirto.id/sejarah-pasukan-islam-menaklukkan-mesir-pada-1-ramadan-dq8N

Oleh: K.H. Abdurrahman Wahid

Gerakan Islam di Mesir terkenal paling gigih. Gerakan Islam di sini adalah mereka yang menghendaki adanya masyarakat Islam yang moralistik dan menolak gagasan negara sekuler. Artinya, mendasarkan kehidupan masyarakat pada ajaran, akhlak, dan hukum Islam. Gerakan-gerakan itu semula bejumlah sangat banyak, namun lambat laun dikoordinasikan oleh Al-Ikhwanu Al-Muslimun, berada di luar pemerintahan, dan tidak terikat oleh tatanan yang ada. Artinya mereka juga tidak terikat pada kepentingan birokrasi agama. Sehingga, beberapa kali terjadi peristiwa besar yang kita tidak tahu apakah bermula dari gerakan Al-Ikhwanu Al-Muslimun, atau justru dibikin oleh birokrasi untuk melumpuhkan mereka. Polanya sama, yaitu merosotnya kualitas akhlak secara umum dan lahirnya pembaharuan pemikiran di kalangan kaum nasionalis. Jadi, tidak pernah jelas siapa yang memulai, walaupun keadaannya secara umum dapat dikatakan sama.

Peristiwa pertama terjadi pada 1940-an, ketika Husein Haikal mengemukakan kuatnya kebangsaan Arab melalui serangkaian tulisan dan ceramahnya di TV. Kehendak pemikiran penulis buta ini, yang menjadi dosen di Cairo Univercity, boleh dikatakan hampir menguasi jajaran pemikiran kebudayaan di Mesir saat itu. Jalan pikirannya adalah kebanggaan bangsa Arab yang harus dikombinasikan dengan kemajuan teknologi Barat. Pada saat itulah, gerakan Al-Ikhawanu Al-Muslimun melahirkan Hasan Al-Banna. Pemikir dan aktivis muslim ini, merupakan tandingan bagi Husein Haikal, Dia dijatuhi hukuman makar karena ingin menggulingkan kekuasaan Raja Farouk. Untuk itu, ia dijatuhi hukuman mati dan gerakannya dilumpuhkan dengan menggunakan kekuasaan. Pada 1950-an, Taha Hussein menguasai percaturan melalui murid-muridnya, yang pada saat itu juga telah menguasai Cairo Univercity. Orang-orang seperti Suhair Qalawami, Syauqi Dhaif, dan Husein Nassar mencoba hal-hal yang dipikirkannya. Hal itu, adalah kebanggaan sebagai orang Arab yang dikombinasi dengan kemajuan teknologi Barat di bawah Presiden Gamal Abdel Naser. Maka, terjadilah pergumulan panjang melawan gerakan Islam Al-Ikhwanu Al-Muslimun saat itu, di bawah pimpinan Al-Hudaiby. Pada 1956, terjadi keributan yang berujung pada jatuhnya hukum gantung terhadap dirinya. Kembali Al-Ikhwanu Al-Muslimun dilumpuhkan, dan menanglah birokrasi agama melalui Al-Azhari dalam percaturan gerakan Islam.

Pada 1960-an, masih tetap di bawah pemerintahan Naser, kembali Al-Ikhwanu Al-Muslimun harus menyaksikan pimpinan mereka– yang, saat itu berada di tangan pemikir terkenal Sayyed Qutb, dibawa ke mahkamah. Ia dan beberapa orang kawannya dijatuhi hukuman gantung. Dan, kembali gerakan itu dilumpuhkan dalam kombinasi kekuatan antara gerakan Islam yang ada, yang sudah dikuasai oleh birokrasi.

Pada 1980-an, terjadi pemboman kendaraan (bus) yang memuat turis asing. Beberapa orang meninggal dunia. Oleh karenaya, kembali beberapa orang pemimpin muslim dijatuhi hukuman penjara. Lagi-lagi, terjadi kolusi antara birokrasi pemerintahan dan agama melalui Al-Azhar. Di sini, polisi rahasia Mesir mengikuti kehendak para pemimpin gerakan agama yang birokratis itu. Caranya, polisi rahasia melakukan pembunuhan terhadap beberapa orang yang berpindah dari agama Islam ke agama Kristen Koptik (Al-Aqthab).

Sebaliknya, kini terjadi perpindahan sasaran yang menunjukkan tanda bertambahnya “kecanggihan” pemerintahan Mesir. Kalau semula para pemimpin muslim menjadi sasaran hukuman mati (pembunuhan), sekarang diimbangi dengan tekanan terhadap para pemimpin Mesir beragama Kristen. Hal itu berpuncak pada pengasingan Paus Koptik, Bapak Miskin (Baba Al-Miskin) di lembah Natrouun pada 1960-an dan 1970-an. Hingga kini, gencetan terhadap para pemimpin Koptik ini “ditingkatkan” menjadi pembunuhan.

Dengan demikian, kebijakan pemerintah Mesir terhadap gerakan Islam berubah. Kalau semula pemimpin muslim dibunuh dan para pemimpin Kristen digencet dan ditekan, maka birokrasi agama ditopang. Pada masa pemerintahan Presiden Mubarak, hal itu diganti dengan hukuman kepada para pemimpin gerakan Islam dan pembunuhan orang-orang Kristen. Rupanya, perubahan taktik ini membawa hasil. Dari dalam penjara, para pemimpin gerakan muslim berkirim surat kepada Presiden Mubarak. Dalam surat itu, mereka menyatakan tunduk pada UUD Mesir yang masih bercorak nasionalistik itu. Mereka berjanji tidak akan menggunakan cara kekerasan, dan tunduk pada aturan-aturan hukum yang ada, asal diberi grasi. Apakah ini berarti mereka telah meninggalkan cara-cara semula, yaitu tetap setia pada hukum Islam dan tidak pernah menyatakan kesetiaan pada konstitusi Mesir, telah kita lihat hasilnya.

Pertanyaannya; apakah perubahan taktis itu diikuti oleh perubahan strategis dari para pemimpin Islam, atau hanya perubahan di luar belaka? Inilah yang menarik kita untuk menyimak apa yang terjadi di negeri lembah Nil itu. Bukankah hal itu juga terjadi di negara kita.